Asam Sunti Cita Rasa Masakan Aceh

Indonesia negeri beribu pulau yang berjajar dari Sabang sampai Merauke, dihuni oleh banyak suku dengan berbagai macam adat istiadat, panorama alam yang begitu eksotis nan indah dipandang mata, serta kuliner yang begitu memanjakan lidah bagi siapa saja yang mencicipinya. tak heran jika banyak makanan indonesia menjadi makanan favorit di negara lain.

Pada postingan ini saya akan menulis tentang bumbu dapur yang menjadi ciri khas masakan masyarakat Aceh. Seperti kita ketahui setiap daerah di Indonesia tentunya menpunyai cita rasa masakan tersendiri, baik rasa asam, manis atau pedas.

Begitu juga halnya dengan masyarakat Aceh yang menyukai rasa dan pedas pada masakan, tentunya rasa asam pada masakan aceh mempunyai bumbu yang khas serta wajib tersedia di dapur ibu-ibu rumah tangga di Aceh,proses pembuatannya sangat sederhana, bumbu ini adalah asam sunti yang menjadi primadona ibu-ibu rumah tangga di Aceh dalam masakan mereka yang memberi cita rasa asam yang khas di lidah.

Asam sunti adalah jenis bumbu dapur khas aceh, yang terbuat dari belimbing wuluh yang sudah dijemur berkali-kali hingga kering. Asam sunti ini sendiri memberi cita rasa, warna dan kekentalan pada masakan, biasanya digunakan masyarakat aceh pada masakan yang rasanya asam pedas seperti asam keueng (asam pedas), keumamah (ikan kayu), pepes ikan, dan masakan lainnya.

Setiap kali memasak masakan yang bercita rasa asam, kurang rasanya tanpa asam sunti. Oleh karena itu setiap harinya masyarakat aceh menggunakan asam sunti ini sebagai bumbu dalam masakan, tentu saja asam sunti ini terlebih dahulu dihaluskan seperti bumbu-bumbu lainnya.

Proses pembuatannya sendiri sangat sederhana, pertama-tama belimbing wuluh direndam dalam air selama 1 hari, kemudian dijemur di bawah sinar matahari, setelah penjemuran tahap pertama selesai, belimbing diberi garam dan disimpan di tempat yang teduh.

Keesokan harinya belimbing dijemur kembali, penjemuran ini dilakukan berulang-ulang sampai mengering, biasanya asam sunti yang dihasilkan berwarna coklat dan kenyal. Kandungan garam dan asam yang cukup tinggi pada asam sunti dapat menghambat pembusukan, sehingga asam sunti dapat bertahan sampai satu tahun bahkan lebih tanpa perubahan warna dan tekstur.

asam sunti dijemur

Asam sunti ini sendiri merupakan bumbu wajib yang harus dimiliki oleh ibu-ibu rumah tangga di Aceh, tidak heran jika masyarakat Aceh yang menetap diluar Aceh pun tetap memakai bumbu ini, karena lidah masyarakat Aceh sudah menyatu dengan asam sunti, masak tanpa asam sunti terasa ada yang kurang, walaupun terkadang rasa asam pada masakan bisa didapat dari bumbu-bumbu lainnya seperti asam jawa, asam mangga atau jeruk nipis namun rasa asam yang terdapat pada asam sunti sangat khas sekali.

Belajar dari pengalaman sendiri, 2 tahun menetap di Sudan, asam sunti tetap saya gunakan pada tiap masakan, tentu saja asam sunti turut serta saya bawa ke Sudan. Saya punya cerita menarik ketika sedang kuliah di Sudan dan tinggal di asrama bersama teman-teman dari berbagai negara.

Pada suatu hari saya memasak ungkot keumamah (ikan kayu) untuk makan siang, yang bumbu utamanya adalah asam sunti, 2 gengam asam sunti ini dihaluskan beserta bumbu-bumbu lainnya yaitu cabe rawit secukupnya, 2siung bawang merah, cabe merah 3 buah, 1 butir bawang putih, ½ sendok teh kunyit. Kemudian iris bawang merah dan cabai hijau secukupnya.

Proses pembuatannya sederhana, sebelumnya ikan kayu di iris tipis-tipis kemudian rendam dengan air panas selama 5 menit, setelah itu panaskan minyak tumis bawang, cabai hijau yang sudah diiris beserta bumbu yang sudah dihaluskan, kemudian masukkan keumamah, daun kare agar aroma masakan menjadi harum dan beri sedikit air, tunggu sampai matang.

Tenyata selama proses pembuatan masakan ini aromanya tercium sampai kamar tetangga saya yang berasal dari Thailand, Nigeria, Somalia, tentu saja hal ini mengundang mereka untuk datang bertamu ke kamar saya. Mereka menanyakan masakan apa yang sedang saya masak, dengan senang saya menjawab bahwa masakan ini adalah masakan Indonesia tentunya khas dari daerah saya, kemudian saya mengajak mereka untuk makan siang bersama dengan masakan keumamah yang menggunakan bumbu asam sunti ini.

Setelah mencicipi masakan saya diluar dugaan rasa asam pada masakan ternyata menarik perhatian teman-teman saya dari Nigeria, Thailand. Mereka menyukai rasa asamnya yang khas, karena penasaran mereka pun menanyakan bumbu apa yang saya pakai dalam masakan tersebut, setelah saya memperlihatkan wujud asam sunti ternyata mereka kagum, dan spontan mengatakan masakan indonesia itu unik-unik dengan cita rasa yang sangat khas dan pas di lidah mereka.

Dan ini adalah pengalaman menarik bagi saya karena bisa memperkenalkan makanan Indonesia dengan bumbunya yang khas, dan ternyata teman-teman saya pun begitu berkeinginan untuk mengunjungi Indonesia agar bisa mencicipi makanan-makanan Indonesia lainnya.

Rasa asam pada asam sunti memberi ciri khas tersendiri pada tiap masakan, walaupun sedang berada diluar Aceh, namun ketika makan masakan yang memakai asam sunti terasa seperti sedang berada di kampung halaman, masakan juga bisa mengobati rasa kangen akan tanah Aceh walaupun sedang berada di benua yang berbeda.

Untuk anda yang berada di luar Aceh khususnya Jakarta, sekarang asam sunti ini dengan mudah bisa kita dapatkan di pasar-pasar tradisional serta minimarket atau jika anda memiliki pohon belimbing wuluh di rumah bisa langsung mencoba sendiri pembuatan asam sunti ini, setelah itu bisa langsung juga mencoba resep-resep masakan Aceh yang bumbu utama adalah asam sunti.

27 replies
  1. Irma Devi Santika
    Irma Devi Santika says:

    oh jadi klo masyarakat aceh lebih suka cita rasa masakan yang asam ya? tiap daerah punya cita rasa lidah masing-masing. hhehehe..
    asam sunti dari belimbing wulu, pengetahuan lagi. makasi buat postingannya kak Tia 🙂
    salam u/ keluarga di sana.

    Reply
  2. Tatang Tajudin Ibnu Supyan
    Tatang Tajudin Ibnu Supyan says:

    Nambah lagi pengetahuan tentang bumbu nih..
    Boleh tanya kan ukhti…
    Itu belimbing di kasih garamnya saat setelah penjemuran yang pertama saja? untuk penjemuran2 yang berikutnya hingga kering tidak di kasih garam lagi tah?
    berarti kalau sudah kering tinggal di haluskan saja dong dan dicampurkan saat proses memasak yaa…?

    Syukron. Semoga Barokah

    Reply
  3. meutia
    meutia says:

    @Tatang Tajudin Ibnu Supyaniya biasa di penjemuran pertama diberi garam, tapi kalau mau diberi lagi di penjemuran slnjutkan ya monggo, karna ngak ada takaran yg baku untuk pemakaian garam, asal tidak kebanyakan saja, yup benar tnggal dihaluskan beserta bumbu2 lainnya..

    Reply
  4. Qefy
    Qefy says:

    Oh tidak, aku pikir tadi judulnya asam sunat. Makanya kaget. Haha. Rupanya asam sunti ya kak, aku mau dong dikirim makanan yang sudah diolah dengan Asam Sunti. Hehe.

    Kak Tia apa kabar? Sedang sibuk apa kak? 🙂

    Reply
  5. Accilong
    Accilong says:

    asam suntilanak. wkwkkwkwkwkwkk… aya2 wae si mas budi insan.

    klo di suku bugis, lebih suka pake asam mangga. tau dah ada istilahnya apa tdak. tp kurang lebih prosesnya sama. mesti dikeringkan sebelum digunakan

    Reply
  6. Nick Salsabiila
    Nick Salsabiila says:

    wakakakaakakakkkk…komen mas qefy paraah…-__-
    stuju sama mas insan..aku jg taunya asam suntibolong…hahahaa…
    jd pingin beli..di supermarket ada ga mbak? akhir2 ini aku sring mampir ke kafe aceh di jgja soalnya..cita rasanya emang khas.. 😀

    Reply
  7. Fahmi
    Fahmi says:

    yah indonesia memang terkenal dengan kuliner nya, soalnya banyak masakan indonesia yang berbumbu, gak seperti masakan eropa yang isinya roti ditumpuk sama daging + saos hahaha

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *