Lagu Anak Semakin Langka

Semua kita pernah melewati masa kanak-kanak, dunia kanak-kanak begitu menyenangkan dan tak heran jika kita pernah ingin kembali ke masa itu. Banyak hal yang menarik yang kita lewati semasa kanak-kanak, dunia kanak-kanak memang menjadi masa yang tak pernah terlupakan dalam hidup.

Berbicara tentang dunia anak-anak ada hal yang meresahkan hati saya sehingga ingin menulis postingan ini, ingatkah kita pada masa kanak-kanak suka bernyayi dan menyanyikan lagu-lagu seperti Balonku, Naik-naik ke puncak gunung, atau Abang tukang bakso?, pada saat saya masih kecil lagu-lagu ini kerap saya nyanyikan bersama teman-teman sebaya kala itu.

Anak-anak seharusnya berada pada dunia mereka bukan di dunia orang dewasa, berbicara dunia hiburan di tanah air tidak terlepas dari musik. Sangat disayangkan hiburan musik yang ditayangkan oleh televisi-televisi didominasi oleh lagu-lagu untuk orang dewasa, baik acara musik tersebut ditayangkan pagi, sore ataupun malam hari.

Sedangkan yang menjadi penonton televisi itu berasal dari kalangan anak-anak hingga orang tua, tak heran jika masa sekarang ini anak-anak lebih hafal lirik lagu-lagu untuk orang dewasa yang benuansa cinta, patah hati ataupun perselingkuhan.

Dan ditambah lagi dengan menjamurnya demam boyband dan girlband di Indonesia, sungguh ironis para fans girlband dan boyband mayoritas berasal dari kalangan anak-anak yang begitu mengidolakan mereka serta sangat hafal lirik lagu-lagu idola tersebut.

Sebagai seorang kakak dan mempunyai 2 orang adik yang masih duduk di bangku SD, lumrah saja saya merasa gelisah dengan keadaan ini, adik saya yang baru duduk kelas 3 SD dengan lancarnya menghafal lirik lagu dari girlband dan boyband yang sedang menjamur sekarang ini.

Walaupun begitu saya terus mengenalkan kepada mereka lagu anak-anak, dan sering mengajak mereka ikut bernyanyi beberapa lagu anak jaman dulu yang sampai sekarang masih menjadi hits.

Sebuah pertanyaan menohok hati saya, ketika suatu sore adik kecil saya menanyakan arti “selingkuh” kepada saya, terdiam sesaat kemudian saya bertanya, dari mana dia tau kata-kata selingkuh, dan ternyata kata-kata itu dia dapatkan dari sepotong lirik lagu yang sangat di hafalnya.

Sangat miris dengan segala usaha saya mencoba memberi pengertian untuk adik saya yang masih kecil itu. Tentu saja ini menjadi keresahan hati saya, selain bisa mempengaruhi psikologis mereka, hal ini juga bisa menjadikan mereka mengetahui hal-hal yang belum saatnya mereka ketahui.

Dulu sewaktu saya masih kecil, setiap hari minggu ada acara khusus di TVRI yang menayangkan lagu anak-anak yaitu Panggung gembira anak-anak, para penghiburnya adalah artis cilik seperti Melissa dengan lagu abang tukang baksonya, Joshua, Enno lerian, trio kwek-kwek dll, pada masa itu dunia hiburan anak-anak begitu semarak sehingga menjadi tontonan yang sesuai untuk mereka.

Namun hal tersebut tidak saya dapatkan sekarang ini, walaupun penyanyinya anak-anak namun isi dari lagu tersebut tidaklah sesuai dengan dunia mereka.

Hal lain bisa kita lihat dari kontes penyanyi cilik yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi walaupun kontes tersebut untuk penyanyi cilik namun sangat disayangkan lagu yang di bawakan pada kontes tersebut mayoritas adalah lagu-lagu orang dewasa.

Tentu saja ingatan kita takkan pernah pudar pada artis cilik yang pernah berjaya pada masanya sampai sekarang juga masih eksis dalam dunia hiburan walaupun mereka sudah remaja, sebut saja penyanyi cilik seperti Tasya, Sherina, Agnes Monica, Puput melati, Bondan Prakoso, Tina Toon, mereka semua pernah memberi warna pada dunia musik anak-anak, tentu saja lirik lagu-lagu mereka pada saat itu sesuai dengan dunia mereka yang masih anak-anak.

Anak-anak seharusnya berada pada dunia mereka bukan di dunia orang dewasa, lantas menjadi tanggung jawab siapakah hal ini?, tentu saja menjadi tanggung jawab kita bersama, baik orang tua dengan memberikan pengertian kepada anak, serta pemerintah dan para seniman di industry musik untuk menyemarakkan dunia hiburan anak-anak sesuai dengan dunia mereka, juga media televisi memberikan ruang khusus untuk hiburan anak-anak.

Bagaimana menurut anda?

32 replies
  1. JeQ the ShadowZ Knight
    JeQ the ShadowZ Knight says:

    ya benar, mbak….
    saya juga prihatin dengan musik di tanah air ini…
    jujur saja, saya ini bukanlah pecinta musik, tetapi saya sangat heran, anak-anak kecil zaman sekrang ini pada hafal lagu2 bernuansa cinta gitu….
    padahal saya sendiri tak pernah hafal dg lagu2 seperti itu…
    bahkan jika saya mendengar anak2 kecil menyanyikan lagu seperti itu saya merasa risih gimana gitu….
    dari mana mereka tahu lagu seperti itu? siapa yg bertanggungjawab?
    padahal saya ja terkadang gak tahu lagunya, dan mereka menyanyi pun tak mengerti maksud lagunya…

    sungguh sangat memprihatinkan…

    Reply
  2. Sugiantoro
    Sugiantoro says:

    Inilah tugas utama para orangtua sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya…

    Tapi sayang, orangtua sekarang lebih banyak yang menyerahkan pendidikan anak2nya ke dunia luar tanpa ikut mengontrol perkembangan mereka…

    Sungguh benar apa yang telah diucapkan oleh Rasulullah bahwa anak itu adalah nikmat sekaligus ujian bagi para orangtuanya…

    salam kunjungan perdana

    Reply
  3. meutia
    meutia says:

    @Sugiantoro terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, benar sekali orang tua sebagia pendidik mempunyai perananan penting dalam perkembangan anak, namun tidak di pungkiri pula bahwa lingkungan sekitar juga ikut andil dalam perkembangan seorang anak, kembali lagi sebagai orang tua harus pintar2 mengarahkan si anak pada hal2 yg positif..

    Reply
  4. Irham
    Irham says:

    Keprihatin yang sama, Mbak. Bermula dari sebait lagu si Ayu Tuing-2 yg diucapkan anakku, sejak itulah serasa disadarkan untuk semakin intens mengawal, membimbing, dan mengawasi si kecil.

    Reply
  5. Andro Bhaskara
    Andro Bhaskara says:

    entah harus bagaimana lagi menyikapi kodisi itu… si Fikrah juga lagi demam boyband… paling saya hanya membatasi waktu menonton untuknya…
    dengan kesibukan saya, saya tidak bisa mengawasinya 24 jam… kalo udah ada solusi, kasih tau yak..!!! 🙂

    Reply
  6. Erlangga Kusumawijaya
    Erlangga Kusumawijaya says:

    Iyaaa setujuu. teringet waktu pernah ada acara sama anak-anak kecil, waktu sy sedang berbicara dg salah seorang sahabat sy yg akhwat, langsung di "ciyee"-in. -___-
    Anak kecil sekarang terlalu cepat dewasa, seingat sy dulu waktu kecil main kartu bergambar, ngajii, trus, jajan cimol. #merindukan masa kecilku ^_=

    Reply
  7. Sam
    Sam says:

    Kok sulit ya mau berkomentar apa… Lagu anak2 yg baru emang jarang terdengar ada bahkan ga ada menurutku, tp lagu yg lama kayanya masih eksis deh… Sy juga masih sering mendengarnya pas semua jenis musik trasa membosankan :d

    Reply
  8. Pakde Cholik
    Pakde Cholik says:

    Sayapun pernah mengulas masalah ini dengan membandingkannya lagu dan penyanyi anak-anak era yang booming tahun 1980an.

    Para pencipta lagu dan industri musik Indonesia selayaknya meperhatikan hal ini ya.

    Salam hangat dari Surabaya

    Reply
  9. auraman
    auraman says:

    Ya begitulah kak, susah sekarang membedakan mana yang benar-benar seniman, mana yang seiman (gak nyambung) tapi musik blog kakak bisa untuk anak-anak TK ni kalau lagi jalan-jalan 😀

    Reply
  10. Wahyu D. Prakoso
    Wahyu D. Prakoso says:

    setuju nih. jadi, sekarang itu anak – anak lebih terkesan lebih tua daripada umurnya. apa yang seharusnya tidak dimengerti anak – anak sekarang telah menjamur dikalangan anak – anak. sayang banget ya, seharusnya ada TV khusus yang menayangkan acara khusus untuk anak – anak atau untuk semua umur..

    Reply
  11. CLk7
    CLk7 says:

    sebelumnya, saya ngakak dulu aah baca komen2 'orang tua' di atas.wkakak 😀

    sepakat binti setuju sama om2 dan tante2 di atas semua. dulu (haa, kentara tuanya), aku suka sama Maissy, Cindy Cenora, Sherina, dkk.

    kalo anak zaman sekarang mah, saya kasian aja sama mereka. ckkck… =__='

    Reply
  12. Arya Poetra
    Arya Poetra says:

    Calon ibu yang baik, kak Tia ini. Duh… sweet tulisannya. 😀

    Kebanyakan orangtua yang bisa kita lihat sekarang, adalah orangtua yang begitu ingin melihat anaknya dewasa. Atau, dengan dalih ingin mengembangkan bakat anaknya, tanpa ragu "memaksa" anak mereka mengikuti kursus-kursus dengan berbagai macam label. Tanpa terlebih dahulu mengerti bahwa dunia pembelajaran mereka sebenarnya terletak pada dunia permainan. Mereka punya range waktu tersendiri untuk mereka belajar memahami "dunia asing" ini.

    Ya, pelajaran juga buat saya sebelum menjadi sosok Ayah untuk anak-anakku kelak. 🙂

    Reply
  13. any
    any says:

    iya sama sekali tidak ada lagu untuk anak-anak, walaupun ada penyanyi anak-anak tapi mereka menyanyikan lagu dewasa.
    jadi rindu, kapan ya musik anak-anak bermunculan kembali seperti waktu dulu.

    Reply
  14. Asep Haryono
    Asep Haryono says:

    Saya sendiri heran banyak anak anak kecil sekarang pada hafal Iwak Peyek dan lain sebagainya. Sebagai orang tua saya juga prihatin. Salam dari Blogger Pontianak. Izin follow

    Reply
  15. Anonymous
    Anonymous says:

    saya juga setuju. tapi beberapa lagu dewasa yang berisi tentang motivasi seperti satu = sama atau jangan menyerah sepertinya tidak apa – apa jika didengarkan oleh anak – anak.

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *