Dua Tahun Bersama Profesor

Ketika kesempatan untuk menuntut ilmu didapat, apakah kita akan biarkan berlalu begitu saja tentu tidak jawabannya. Dua tahun bersama Profesor banyak hal yang saya dapatkan ketika menimbal ilmu di Negeri Dua Nil ini, bukan saja ilmu-ilmu yang berkenaan dengan mata kuliah yang saya pelajari di kampus tapi juga ilmu tentang hidup juga banyak saya peroleh dari beliau-beliau tersebut.

Diawal kuliah saya mempelajari mata kuliah Taqniat Ta’lim dengan seorang profesor, beliau adalah Profesor Abdurrahman Kadok namun kami lebih senang memanggil beliau ustad Kadok, usia beliau sekitar 60 tahun belajar dengan beliau sangat menyenangkan walaupun saya sering merasakan ketegangan taktala masuk mata kuliah yang beliau asuh, konon lagi mata kuliah ini susah untuk lulus apalagi mendapatkan nilai bagus setiap tahunnya banyak mahasiswa harus mendapatkan Mulhaq (tidak lulus) sehingga harus mengikuti ujian kedua.

Beruntung hasil ujian saya pada mata kuliah ini bisa lulus walaupun dengan nilai cukup, sedangkan lebih 10 orang teman-teman di kelas saya harus mengulang dan mengikuti ujian kedua. Semester-semester selanjutnya tidak ada mata kuliah yang beliau asuh namun takdir membawa saya bertemu kembali dengan beliau ketika SK pembimbing Tesis keluar dan menyatakan beliau sebagai pembimbing tesis pertama saya, jatung saya langsung berdegup kencang cemas bagaimana nantinya ketika saya harus bimbingan tugas akhir.

saya berfoto bersama profesor kadok

Bismillah, dengan yakin saya melangkah menuju kampus IUA karena ruangannya beliau di kampus tersebut dan beliau menjabat sebagai dekan pada Fakultas Tarbiyah (Ilmu Pendidikan). Masuk ruangan beliau disambut oleh sektretarisnya Affa, Affa sangat ramah kepada saya sembari mengatakan untuk menunggu sebentar karena Prof Kadok sedang menerima tamu, setelah menunggu hampir 20 menit tamu beliau pun keluar dan Affa mempersilahkan saya masuk.

Dengan mengucap salam saya pun masuk dan ternyata diluar dugaan beliau sangat ramah berbeda ketika beliau sedang mengajar di kelas, kemudian saya utarakan maksud kedatangan saya untuk menyerahkan Sk bimbingan tugas akhir kepada beliau, beliau berkata akan ada pertemuan esok harinya dengan beberapa mahasiswa yang juga pembimbingnya beliau, Setelah berbincang sebentar saya pun pamit pulang.

Keesokan harinya di ruangan beliau saya dan ketiga mahasiswa lainnya mendengarkan arahan dan bimbingan beliau, minggu selanjutnya kami pun harus menyerahkan bab pertama dari tugas akhir, dan kebetulan jadawal bimbingan pertama saya hari kamis.

Hari berlalu begitu cepat tanpa terasa hari yang dinanti pun tiba bergegas saya menuju ruangan beliau, seperti biasa Affa sang sektretaris pribadi beliau menyambut dan mempersilahkan masuk.

Bimbingan pertama sangat mengesankan dengan sabar beliau membimbing dan memperbaiki kesalahan dalam penulisan, tanpa terasa azan untuk salat asar berkumandang artinya 3 jam saya bimbingan dengan beliau tanpa merasakan lelah, selain ruanganya full AC sektretaris beliau juga menyediakan minuman dan makanan ringan.

Untuk bimbingan selanjutnya saya diperbolehkan untuk datang dari hari minggu sampai kamis ba’da zuhur, karena dijadwal tersebut beliau selalu ada di dalam ruangannya.

Setiap bimbingan dengan beliau banyak ilmu yang beliau ajarkan, mulai dari menerjemahkan satu teks ke dalam bahasa arab yang baik, selain itu beliau sangat teliti ketika membimbing mahasiwa-mahasiwanya. Dan memperhatikan jadwal bimbingan saya jika sudah lebih 3 hari tidak datang untuk bimbingan, beliau akan menelpon untuk menanyakan kabar saya apakah sehat-sehat saja serta perkembangan tugas akhir. Setiap kali menelpon beliau selalu memanggil saya dengan sebutan “Ya Bunayyati” (wahai anakku).

Selain itu ilmu tentang kehidupan juga banyak aku peroleh dari beliau, walaupun beliau seorang yang telah banyak ilmunya namun sangat tawadhu’, sering menceritakan kepada saya masa-masa ketika beliau masih menuntut ilmu dulu, memberikan motivasi untuk terus mempelajari bahasa arab lebih mendalam lagi.

Setelah melewati masa bimbingan dan beliau menyatakan tesis saya layak untuk diujiankan, akhirnya ujian akhir saya dinyatakan lulus, sambil tersenyum beliau memberi ucapan selamat .Berkat ketelitian dan kesabaran beliau sehingga tesis saya tidak terdapat banyak kesalahan. kisah bagaimana saya menghadapi ujian akhir .

Berselang tiga bulan kemudian ketika Ijazah sudah saya dapatkan, saya pun kembali menemui beliau untuk pamitan kembali ke tanah air, siang itu seperti biasa Affa mempersilahkan saya masuk keruangan beliau, setelah masuk beliau pun bercerita tentang kegiatannya yang padat hari ini, kemudian saya mengatakan kepada beliau bahwa besok pagi akan bertolak ke tanah air. alangkah kagetnya beliau mendengar perkataan saya tersebut, beliau sempat menawarkan kepada saya untuk mendapatkan beasiswa program doktor namun saya harus membatalkan kepulangan saya esok hari, tapi ketika itu saya mengatakan kepada beliau untuk pulang terlebih dahulu ke tanah air, beliau pun tidak memaksa dan hanya berkata jika ingin kembali dan melanjutkan kuliah silahkan hubungi beliau lewat email maka beliau akan membantu semampunya.

Dan saya pun pamit untuk pulang ke asrama sambil menyerahkan buah tangan khas Aceh sebagai kenang-kenangan untuk beliau, sambil tersenyum beliau berkata: ” Ya bunayyati, attamanna anti takti tsani huna” (wahai anakku, aku berharap kamu akan kembali ke sini pada suatu saat), tentu saja rasa haru aku rasakan selama perjalanan pulang menuju asrama.

Banyak hal yang telah saya peroleh dari beliau dan takkan mungkin lekang dari memory, insyaallah pada postingan selajutnya saya akan bercerita tentang sosok Profesor lainnya.

32 replies
  1. Muhamad Ratodi
    Muhamad Ratodi says:

    wah makcik ditawari beasiswa program doktor? mantap..:)
    duh jadi inget sosok2 pengajar saya juga waktu pasca kemaren juga..plus ribet2nya ngurusin yang namanya thesis..

    makcik kalo ngambil S3 barengan yuk..#halah…ngga nyambung

    Reply
  2. Nik Salsabiila
    Nik Salsabiila says:

    Huhuhuu..jadi inget..kmarin aku ditawarin S2 mb..pas habis lulus dan dikasi satu kursi calon dosen muda di kampus…tapinya malahan jodoh dateng duluan dan harus pindah dri jgja… :'(
    Tulisan mb tia bikin aku smangat mau nerusin S2 bareng suami…eaaaaa….

    Reply
  3. Mugniar
    Mugniar says:

    Assalamu 'alaikum Tia, apa kabar? Lama gak main ke sini.
    Saya saja terharu lho membaca tulisan ini. Pasti pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup ya. Mudah2an kelak bisa kembali ke sana untuk program doktor dan bertemu dengan beliau lagi 🙂

    Reply
    • meutia
      meutia says:

      waalaikumsalam kak niar, alhamdulillah baik..saya jarang ol dan jarang juga BW, trima kasih sudah berkunjung sun sayang untuk athifa, aamiin mudah2n saya bisa kembali kesana 🙂

      Reply
  4. yuni nurnengsih
    yuni nurnengsih says:

    ass.tia, seneng deh dengernya.saya mau nanya banyak nih< boleh ya?soalnya ada rencana mau ngambil s3 disudan. ntar kita komunikasi lewat fb aja boleh ya.inboks gitu.atau lwt bbman aja. ni pin saya 7d2859a1 .syukran.emang lagi butuh banget info tentang sudan.

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *