Keukarah Kue Khas Aceh

Keukarah adalah kue khas Aceh yang mulai langka didapatkan, sejak kecil hingga sekarang saya sangat menyukainya selain tekstur yang garing dan renyah bentuknya juga sangat unik seperti sarang burung, namun di wilayah barat aceh bentuknya ada yang segitiga dengan ukuran kecil maupun besar sedangkan di tempat saya tinggal aceh timur bentuknya menyerupai bulan sabit.

Dulu sebelum nenek meninggal beliau mahir membuat kue-kue tradisional mulai dari meuseukat, bhoi dan salah satunya keukarah ini dan banyak menerima pesanan pada hari raya atau ketika acara pernikahan, pesanan itu sendiri datang dari tetangga maupun sanak saudara.

Karah, saya lebih senang menyebutnya seperti itu, dan biasanya banyak kita temukan ketika hari raya idul fitri dan idul adha, atau acara hantaran pengantin, setiap kali bertamu ke rumah sanak saudara banyak saya temukan kue ini, ternyata tidak semua rumah menyediakannya pada setiap lebaran karena mereka lebih memilih kue-kue modern lainnya keukarah.

Di tempat tinggal saya dulu ada beberapa orang yang berprofesi sebagai pembuat keukarah dan usia mereka sekitar 50-an, seiring berjalan waktu mereka ini meninggal satu persatu karena faktor usia dan sakit kebetulan juga ibu saya di rumah suka memesan karah pada mereka.

Sebenarnya bahan yang dibutuhkan untuk membuatnya sangat simple dan mudah didapatkan di pasar namun entah mengapa sedikit sekali yang bisa membuatnya, suatu hari saya pernah bertanya pada ibu dan jawabannya ternyata proses pembuatannya lumayan rumit juga sehingga orang-orang enggan membuat sendiri, jikalau pun ada biasanya ilmu tersebut turun temurun dari orang tua, misalnya sang ibu dulunya seorang pembuat karah kemudian ketika si ibu meninggal anaknya yang akan mewarisi usaha tersebut.
Di dalam keluarga saya hanya Uwak kakak dari ayah yang bisa membuat karah, setiap lebaran beliau selalu membuatnya untuk kami sekeluarga, terkadang kiriman kami dapatkan walaupun sedang tidak lebaran atau hajatan besar lainnya.

Dua tahun yang lalu ketika masih kuliah di Sudan libur musim panas saya pulang ke tanah air dan kembali ke Sudan setelah idul fitri sebagai oleh-oleh saya membawa kue-kue tradisional termasuk keukarah untuk teman-teman dari berbagai negara, diluar dugaan mereka juga menyukainya ditambah lagi akan lebih maknyus saat memakannya dicelupkan ke dalam kopi atau teh seperti kebiasaan orang-orang sudan yang suka ngeteh pagi dan sore hari sehingga klop saat disuguhkan kepada mereka oleh-oleh keukarah.

Bagaimana cara membuat kue ini dan apa saja bahan-bahannya, kita mulai dari bahannya yaitu tepung beras diberi air kemudian ditambah gula sebagai rasa pemanis adonan, semua bahan diaduk rata menjadi satu, kemudian cara pembuatannya memakai cetakan yang terbuat dari tempurung kelapa yang bentuknya seperti sendok kayu yang dulu banyak dipakai oleh masyarakat Aceh (di rumah saya masih memakai sendok kayu tersebut), kemudian di bawah tempurung kelapa diberi lubang sebanyak mungkin dan ukuran lubangnya sebesar ujung lidi, nah kemudian masukan adonan tadi kedalam cetakan kemudian goyang-goyang cetakan tadi di atas minyak goreng yang telah dipanaskan sebelumnya, begitu adonan jatuh ke dalam minyak segera bentuk dengan menggunakan sendok kayu lalu tunggu hingga warnanya kecoklatan, setelah itu angkat lalu tiriskan dan siap disajikan, yang harus diingat adalah cara menggorengnya harus satu persatu sehingga butuh banyak waktu serta kesabaran yang extra.

Untuk menikmati keukarah tak perlu menunggu lebaran atau acara pernikahan, sebagai kue khas aceh walaupun kita tidak bisa membuatnya sendiri sekarang banyak dijual di gerai-gerai sepanjang jalan lampisang menuju lhokNga Banda Aceh, atau bisa mengunjungi pasar-pasar tradisional dan sangat cocok dibawa sebagai oleh-oleh untuk teman-teman ataupun sanak saudara ketika anda mengunjungi Aceh :).

26 replies
  1. Pakde Cholik
    Pakde Cholik says:

    Kue2 langka akan semakin berkurang jika tak dilestarikan. Kalah sama kue toko yang murah dan praktis membuatnya ya nduk.
    Dulu emak selalu membuat jenang tapi sekarag beli saja.

    Salam hagat dari Surabaya

    Reply
    • meutia
      meutia says:

      ya pak dhe kalau bukan kita yang melestarikannya siapa lagi, wah saya juga suka jenang temen saya dari jawa timur suka bawa jenang , trima kasih pak de atas kunjungannya 🙂

      Reply
  2. windi teguh
    windi teguh says:

    mau dong kue karahnyaa. sepertinya enak ya mba, tapi banyak temenku orang aceh ngga pernah sekalipun bawa oleh2 kue karah.

    Betewe mba, pengggunaan kata " kue ini" nya terlalu byk, mungkin kalo diedit dikit bikin tambah maknyuss 😀

    Reply
    • meutia
      meutia says:

      makasih mba windi tadi saya buru2 ngepost karena mau masuk ngajar lagi, mumpung jaringan internet di kampus juga kenceng kalau udah di rumah jadi lemot, iya mba saya mau edit lagi makasih banyak atas sarannya :), oya mba windi di medan kah ?bisa nanti kalau saya ke medan bawain mba windi keukarah 🙂

      Reply
  3. Irma Devi Santika
    Irma Devi Santika says:

    Waaaaaw, dari gambarnya aja udah keliatan enak Kak. Kue tradisional selalu pas di lidah, dibandingkan dengan kue-kue yang bertebaran di pasaran 🙂
    Itu digorengnya jadi bentuk segitiga gitu ya? Dilihat-lihat kayak kue apaaaa gitu ya kalau di sini. Kirim-kirimlah Kak, kapan-kapan ke sini. Hehehe..

    Reply
    • meutia
      meutia says:

      bentuknya bisa macam2 neng, kalau di tempat kk bentuknya bulan sabit, insyaallah kalau kk ke bandung dibawain ya, kalau di kirim takutnya hancur erkeping2 karena kue ini garing:)

      Reply
  4. Dhe Jalan-Jalan Makan
    Dhe Jalan-Jalan Makan says:

    Di Bali juga ada kue gitu :D, waktu abis mudik ke Aceh tahun lalu Dhe bawa oleh2 kue karah ke Bali, tetapi ternyata di Bali juga ada kata kawan2 yang di sini, tetapi bedanya di Bali ga dibentuk segitiga gt. Lupa namanya apa yah. hmm

    Reply
  5. sabda awal
    sabda awal says:

    iya mbak, kerenyes-kerenyes kalo dimakan, biasa kalau saya bilang kue jaring krena bentukanya mirip jaring…. heheh…]

    saya orang aceh lho mbak, ayah aceh, tapi sekarnag udah tinggal di sumut

    Reply
  6. Diah Didi
    Diah Didi says:

    Wah…unik banget ya kuenya..jadi penasaran gimana rasanya..duh aku kenalnya kok cuma kue2 Jawa selama ini..hihi..ternyata di Ind memang kaya kue2 dan makanan tradisional yang unik2 ya Mak…^^

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *