Long Journey To Egypt

Kuliah di Khartoum pernah jalan-jalan ke Kairo Mesir, pertanyaan itu yang sering dilontarkan oleh sahabat-sahabat saya ketika itu, memang ceritanya sudah hampir berdebu namun apa salahnya jika saya kembali menceritakannya di blog ini.

Febuari 2 tahun yang lalu saya menginjakkan kaki di Kairo, perasaan bahagia pun menyeruak hati saat pesawat landing dengan mulusnya di Cairo International Airport. sejak lama saya ingin mengunjungi negara ini menjelajahi tempat-tempat sejarah mulai dari Pyramida, Mumi Fir’aun hingga Alexandria dan menikmati indahnya sungai Nil ketika malam hari.

Sebelum berangkat ke Kairo ada beberapa persiapan yang harus saya lakukan, karena niat awal kedatangan saya ke negara ini adalah untuk mengunjungi Ma’radh kutub alias pameran buku besar yang hanya diadakan setahun sekali, tentunya saya akan menemukan berbagai macam buku dengan harga lebih murah.

visaSaat itu saya sedang menyelesaikan tesis sehingga harus izin ke pembimbing tesis saya Prof Kadok selama 2 minggu, dan mengatakan kepada beliau ingin mencari buku-buku sebagai referensi untuk penulisan tesis, tentunya dengan senang hati beliau mengizinkan.

Setelah izin prof. Kadok saya kantongi, mulailah saya dan beberapa orang teman mengurus visa, kami pun memilih calling visa dari Kairo, dengan mengirim beberapa peRsyaratan termasuk fotocopy paspor dan menunggu hampir 2 minggu visa pun kami dapatkan, serta harus membayar 80 dollar untuk mendapatkan visa tersebut.

Setelah visa didapat saya dan teman-teman memilih penerbangan mana yang akan kami pakai untuk berkunjung ke negara ini, dan akhirnya jatuhlah pilihan pada Sudan Airways dengan harga tiket pulang-pergi 700 sdg setara dengan 250 dollar walaupun saya mendengar banyak cerita dari teman-teman bahwa penerbangan ini sering terjadi delay tak tanggung-tanggung hingga lebih 2 jam, terbayang sudah kalau itu terjadi pada perjalanan saya saat itu.

Persiapan pun saya lakukan mulai dari memasukkan buku-buku kedalam dus yang akan saya kirim ke Indonesia via Kairo, maklum pengiriman barang Via sudan sangat sulit dan kalau pun ada sangat mahal harganya. Kemudian menghubungi beberapa teman yang terlebih dahulu berangkat serta adik kelas saya yang sedang kuliah di sana untuk menjemput nantinya di airport.

Dan hari yang dinanti pun tiba, saya dan teman-teman berangkat menuju Khartoum airpot lebih awal agar nantinya tidak buru-buru ketika check in, ditambah lagi barang bawaan di bagasi yang banyak berharap tidak overweight. Setelah sampai di airport berpamitan dengan teman-teman yang ikut mengantar kami pun langsung chek in dan ternyata urusannya tidaklah segampang yang saya bayangkan.

Kami pun antri ketika check in menyerahkan paspor plus visa tapi entah kenapa petugas saat itu berkali-kali memeriksa visa tersebut, berulang kali pula petugas itu menelpon ke petugas lainnya untuk memastikan keabsahan visa tersebut sesudah menunggu hampir 30 menit akhirnya selesai juga masalah visa, alhamdulillah barang kami pun tidak overweight.

Babak baru dalam perjalanan ini pun dimulai, benar saja pesawat delay hingga 2 jam lebih terbayang betapa bosannya menunggu, bersama penumpang pesawat lainnya menunggu sambil menonton TV di ruang tunggu tanpa sengaja saya menonton acara berita yang isinya terjadi demonstrasi besar-besaran di Mesir untuk mengulingkan pemerintahan Husni Mubarak presiden Mesir saat itu.

Rasa cemas mulai saya rasakan jika demostrasi ini terus berlanjut bagaimana nasib saya nantinya ketika berkunjung ke sana dalam keadaan tidak aman, namun saya menyimpannya dalam hati sambil menenangkan diri, ini hanya demostrasi biasa yang terjadi di sebuah negara dan semua akan kembali normal.

Menunggu hampir 3 jam pengumuman dari petugas bahwa penumpang penerbangan menuju ke Mesir agar bersiap-siap, dan kami pun masuk ke dalam pesawat. Perjalanan Khartoum-Mesir menghabiskan waktu selama 2,5 jam, entahlah perjalanan ini begitu lambat saya rasakan padahal sebelumnya ketika penerbangan Aceh-Jakarta juga menghabiskan waktu yang sama namun perjalanannya terasa singkat.

Mungkin karena rasa cemas itulah menjadikan perjalanan ketika itu terasa begitu lama, sambil memejamkan mata akhirnya pesawat landing dengan selamat di Cairo International Airport.

Kami turun dari pesawat, lalu antri untuk diperiksa izin masuk ke negara ini, setelah giliran saya menyerahkan paspor dan visa kemudian petugas menyerahkan selembar formulir yang harus saya isi, setelah mengisi formulir kemudian diserahkan ke petugas pada loket lainnya.

Petugas pada loket tersebut memeriksa formulir serta menyuruh saya untuk membeli sejenis materai dengan harga 10 dollar, kemudian ditempelkan di paspor, lalu si petugas akan menanyakan apakah kita memegang uang jaminan, tentu saja saya menjawab iya sambil mengeluarkan uang 1600 dollar sebagai bukti. pertanyaan selanjutnya apakah saya punya tempat tinggal di negara ini, saya menjawab akan tinggal di rumah teman yang sedang kuliah di sini, kemudian petugas pun memberikan stempelnya di paspor.

Ternyata pertanyaan-pertanyaan tersebut mereka tanyakan untuk memastikan bahwa si pengunjung negara ini tidak mengembel alias jadi gembel.

Selesai dari satu loket kembali mengantri di bagian loket lainnya, setelah sampai giliran saya petugas mengambil paspor dan visa serta memeriksa bagian paspor yang sudah distempel petugas sebelumnya, lalu kembali membubuhkan stempel dan paspor dikembalikan kepada saya, berarti saya sudah bisa masuk ke negara ini dan mendapatkan visa turis tentunya dengan jangka waktu 1 bulan.

Di pintu keluar airport teman-teman yang menjemput saya sudah menunggu sejak dari tadi, proses imigrasi yang cukup lama ditambahkan lagi delay pada keberangkatan sehingga kami tiba di kairo jam 8 malam waktu setempat.

Musim dingin masih belum beranjak dari negeri seribu menara ini, dengan menumpangi mobil saya pun menikmati perjalalanan dari bandara menuju Hay ‘Ashir di mana kami akan menginap, betapa indahnya Mesir ketika malam hari sepanjang jalan dihiasi lampu-lampu besar mengingatkanku akan cerita novel fenomenal karya Kang Abik Ketika Cinta Bertasbih, sejenak saya tersentak dari lamunan mendengar perkataan seorang teman ” banyak tempat-tempat indahnya lainnya yang akan kita kunjungi”, sesaat kemudian kami sampai di Hay ‘Asyir lalu mengistirahatkan mata sampai pagi menyapa langit kota Kairo.

Hari pertama di Kairo aroma demostrasi terus berdengung sepertinya aksi ini akan panjang jalan ceritanya, rasa cemas yang saya rasakan akankah menjadi kenyataan terus saja menyimuti hati saat itu. Menyambut pagi dengan udara dingin menggigil setelah sarapan menikmati pemandangan, betapa indahnya.

Bersambung pada postingan selanjutnya 🙂

25 replies
  1. Yan Syaifuddin
    Yan Syaifuddin says:

    Balik lagi ke kairo tia…kemarin kan gak mampir ke rumah yan. kita juga lom jalan2 bareng…
    kalau gak salah tia ke kairo januari. kan kita ketemu di konsulernya waktu evakuasi tgl 1 feb 🙂

    Reply
    • meutia
      meutia says:

      insyaallah yan kalau ada rezeki bisa balik dan jalan2 sama fatih :), seingat tia febuari..'ala kulli hal sudah menginjakkan kaki di tanah para nabi ini 🙂 alhamdulillah

      Reply
  2. sabda awal
    sabda awal says:

    "Ternyata pertanyaan-pertanyaan tersebut mereka tanyakan untuk memastikan bahwa si pengunjung negara ini tidak mengembel alias jadi gembel."

    berarti di negara sudan memang banyak yang begitu ya mbak??

    baru cerita di bandara, menanti cerita dan liputan perjalanannya 🙂

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *