Story Of Sakinah

Bersyukur pernah menginjakkan kaki di Negeri Dua Nil selama 2 tahun menimba ilmu di sana bukan hanya pulang membawa ilmu saja, namun pengalaman hidup yang berharga juga banyak saya dapatkan dari penduduk benua Afrika tersebut selain para mahasiswa yang balajar di negara ini datang dari berbagai negara walaupun dominannya dari negara-negara tetangga seperti Somalia, Turki, Kongo, Nigeria hingga Irak, Amerika, Yaman.

Meski demikian mahasiswa dari benua Asia juga banyak berdatangan seperti China, Jepang, korea, Thailand, Malaysia dan Indonesia, mereka datang ke negara ini dengan tujuan yang sama yaitu untuk mempelajari Bahasa Arab.

sakinah bersama sayaPostingan kali ini menceritakan tentang salah seorang sahabat saya selama kuliah di Khartoum-Sudan, namanya Sakinah namun saya memanggilnya “Makcik Sakinah”, usianya hampir kepala empat dan mempunyai 4 orang anak, berprofesi sebagai dosen di negara asalnya Nigeria, suaminya bekerja sebagai tentara berpangkat tinggi di korpsnya.

Pertama kali mengenalnya saat kami sama-sama menghuni asrama yang disediakan oleh kampus, saya memilih tinggal di asrama saat itu karena ingin berbaur dengan mahasiswa dari negara lainnya selain itu bisa mengasah Bahasa Arab lebih baik terutama dalam berbicara.

Kamar Sakinah terletak paling ujung dari kamar saya, kebetulan kamar kami berada di lantai dua jadi setiap Ia akan turun ke lantai dasar selalu melewati tangga yang tak jauh letaknya dari kamar saya. Sore itu Ia mulai menyapa saya dengan ramah lalu kami pun berkenalan dan Bahasa Arab fushahnya sangat bagus, keesokan harinya kami kembali bertemu di ruang kuliah disela-sela menunggu kedatangan dosen ia banyak bercerita tentang negaranya Nigeria, kedatangannya ke Khartoum ini juga merupakan rekomendasi dari kampusnya alias mendapatkan beasiswa full.

Hari-hari selanjutnya mengalir begitu saja ketika di asrama ia sering berkunjung ke kamar saya terkadang sampai makan siang dengan menu indonesia, menu yang paling ia suka adalah kangkung tumis terasi plus dengan kerupuk, kebetulan saat itu saya banyak menanam kangkung.

tumis kangkung

Akhirnya kami pun bersahabat baik bukan sekedar teman biasa, Sakinah banyak membantu saya dan teman-teman ketika ada materi kuliah yang sulit, biasanya saya datang ke kamarnya dengan membawa buku untuk belajar, dengan sabar ia akan menjelaskan sampai saya benar-benar paham padahal ia sangat sibuk mengerjakan tugas-tugasnya.

Satu hal yang menarik ia kuliah S2 pada dua tempat sedangkan di kampus lain ia mengambil jurusan hukum internasional terbayang sudah bagaimana sibuknya ia mengerjakan tugas-tugas kampus, satu tempat saja sudah repot bin pusing apalagi 2 tempat, namun ia santai menjalaninya dan anak-anaklah yang menjadi semangat untuk menyelesaikan kuliah kalimat itu yang sering ia ucapkan kepada saya.

Hal menarik lainnya ia pintar bahasa perancis, saya dan salah seorang teman lainnya sempat belajar bahasa perancis walaupun hanya sebentar.

Prestasinya tiap semester tidak diragukan lagi, nilai mata kuliah juga selalu Jayyid Jiddan (Baik sekali)-Mumtaz (istimewa), selain itu ia juga sangat aktif dalam setiap diskusi di dalam kelas dan para dosen sangat mengenalnya.

Pintar ia juga baik hati suka membantu teman yang lainnya kadang-kadang jika stok beras saya sudah habis dan lupa membelinya biasanya sakinah dengan baik hati meminjamkan beras (hehe), stok berasnya banyak padahal ia jarang masak nasi dan lebih memilih makan Isy (Roti dari tepung gandum), bahkan telur hingga satu dus indomie juga tersedia di kamarnya.

Ternyata indomie juga menjadi primadona di negara ini dan dengan mudah bisa dibeli di kantin kampus hingga swalayan dengan berbagai macam rasa dari kaldu ayam, soto dll.

Suatu sore Sakinah datang ke kamar sambil membawa sebungkus Indomie dan meminta kepada saya agar memasak indomie tersebut ala indonesia tapi tetap dengan satu syarat tidak boleh pedas, kebanyakan orang-orang Afrika tidak menyukai pedas tapi sangat suka dengan rasa manis yang berlebihan, akhirnya permintaannya saya penuhi hanya 10 menit mie pun siap sajikan, ia pun mulai makan dengan lahapnya hingga isi mangkuk tidak ada yang tersisa dengan tersenyum ia berkata: “lazizah ya ‘azizati” (sangat enak), bisa dong sering-sering dibuatin mienya”, sambil tertawa saya menjawab: “Tab’an” (tentu saja).

Cerita tersebut hanya sepenggal kisah dengannya, pada tahun terakhir masa kuliah kami pun disibukkan mengerjakan tugas akhir (tesis) dan lagi-lagi ia mengerjakan dua tesis sekaligus namun pada akhirnya harus ada prioritas yang mana lebih dahulu harus diselesaikan, ia pun memilih menyelesaikan tesis di kampus tempat kami kuliah.

Saat itu ia termasuk salah seorang mahasiswi yang tercepat mendaftar sidang tesis, setelah disidangkan tesisnya mendapatkan nilai mumtaz (istimewa). 2 tahun ternyata sangat singkat menjelang kepulangan kami ke tanah air masing-masing banyak hal yang terlalui, ya malam itu saat saya sedang mempersiapkan kepulangan saya ke tanah air ia datang ke kamar sambil tersenyum ia meminta sesuatu kepada saya, dengan penasaran saya bertanya apa permintaannya itu, ternyata ia meminta tas bermotif pintu aceh yang sering saya pakai ketika kuliah, dengan tersenyum saya mengatakan tas ini sudah butut nanti saya akan mengirimkan yang baru namun ia menolak dan tetap menginginkan tas yang telah saya pakai sebagai kenang-kenangan saat kami bersama, duh terharunya saya lalu memeluknya kemudian memberikan tas itu.

Malam itu berlalu begitu cepat pagi pun datang pertanda saatnya meninggalkan negara ini, pagi itu tak terlihat Sakinah ternyata ia mengirim SMS akan menyusul ke bandara sebelum keberangkatan saya, sampai di bandara ia telah menunggu di sana sebelum check-in kami sempat berpelukan erat tanda perpisahan yang mengharukan sambil menyeka airmata entah kapan akan dipertemukan kembali.

Kini ketika jarak memisahkan apakah kami akan saling melupakan, walaupun raga tidak bersua namun suaranya masih dapat didengar, dengan kecanggihan tehnologi tali silaturrahmi antara kami tidak terputus, kami masih saling bertukar kabar dan cerita lewat email terkadang chatting lewat facebook, sesekali saling SMS-as (biayanya mahal hehe), hingga berkomunikasi lewat skype, memang menyenangkan sambil berdo’a semoga kami kembali dipertemukan.

Sejenak sebelum menutup postingan ini saya ingat kembali alasan kenapa saya memanggilnya dengan sebutan “Makcik”, saat itu teman kuliah seangkatan rata-rata umur mereka lebih tua dari saya namun tidak ada perbedaan tua muda cukup memanggil nama saja tanpa ada embel-embel mas, mbak, kakak, atau abang kepada yang lebih tua layaknya seperti kita di Indonesia, sakinah bertanya kepada saya jikalau ia lebih tua dan sudah mempunyai anak dan sudah menganggapnya seperti saudara panggilan apa saja yang bisa digunakan lalu teman saya yang lain menjawab “Makcik”, nah Sakinah pun ingin dipanggil dengan panggilan “Makcik Sakinah”.

***Sakinah, Wallahi Musytaq Syadiid***

24 replies
  1. Gulunganpita
    Gulunganpita says:

    ah.. kak tia.. aku jadi ingat teman-teman di pesantrenan dulu..
    senang ya punya teman berbagi.. apalagi yang dengan ikhlas selalu membantu kita.. kadang terasa iri juga dengan kebaikan mereka.. rasanya ingin berbuat lebih baik lagi

    Reply
    • meutia
      meutia says:

      tapi mie nya ngak manis kak niar cuma rasanya ngak pedes hehe, mereka suka kue atau minuman yg super manis :), sekarang alhamdulillah baik kadang2 suka chatt di facebook, dia sedang menyelesaikan disertasinya 🙂

      Reply
  2. Insan Robbani
    Insan Robbani says:

    wah kenapa saya jadi ikut terharu membaca cerita persahabatan dua anak manusia ini? persahabatan yang indah dari tumis kangkung, Mie instan, tas ala aceh sampai sebutan makcik… subhanallah

    suka posting ini

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *