Suuq Oumdurman

Masih sama postingan kali ini saya menceritakan kembali sisi lain Khartoum, maklum saja menjelang kepulangan saya ke tanah air banyak moment terlewati dan belum sempat saya tulis di dalam blog ini karena pada saat itu laptop kesayangan rusak dan tidak bisa diperbaiki sama sekali.

Postingan kali ini tentang tempat untuk berburu oleh-oleh, jika sedang berada di satu negara pasti tentunya kita akan mengunjungi tempat-tempat wisata, kemudian icip-icip makanan yang terkenal dari negara tersebut, diakhir perjalanan pasti kita akan berburu oleh-oleh yang akan dibawa pulang untuk sanak saudara dan sahabat
Suuq Oumdurman adalah salah satu tempat untuk berburu oleh-oleh yang harus dikunjungi.

Suuq dalam bahasa Indonesia berarti pasar sedangkan Oumdurman adalah nama daerah di Sudan, sebelumnya pemerintahan dan ibukota negara Sudan ini terletak di Oumdurman sehingga di daerah ini banyak kita temukan gedung-gedung pemerintahan dan pasar-pasar besar, namun beberapa waktu kemudian ibukota negara ini dipindahkan ke Khartoum.

Perjalanan ke Oumdurman membutuhkan waktu lebih dari satu jam jika kita berangkat dari Markaz, dengan dua kali menumpangi angkutan umum yang biasa disebut dengan ‘Arabiah (sejenis bus) dengan membayar sekitar 1 Sdg setara dengan Rp 3000 kita akan turun di terminal bus Khartoum, selain naik Arabiah kita juga bisa menumpangi angkutan umumnya lainya seperti busway, haisy.

Kemudian setelah sampai di terminal bus Khartoum kita bisa naik bus atau haisy (mini bus) jurusan Oumdurman dan hanya dengan 1sdg kita akan sampai di Oumdurman.

Mungkin bagi yang baru mengunjungi suuq ini tak perlu khawatir, cukup memberitahukan kepada supir bus bahwa kita ingin mengunjungi pasar oumdurman maka si supir akan menurunkan penumpangnya di dekat pintu gerbang pasar.

Ketika itu saya beserta dua orang teman dari thailand mengunjungi pasar ini, kebetulan kedua teman saya ini sudah 2 tahun menetap di Sudan dan sering mengunjungi pasar ini sehingga mereka hapal seluk beluk jalan di dalam pasar. Ternyata pasar ini sangat luas kalau belum terbiasa berkunjung ke pasar ini bisa tersesat, ditambah lagi saya susah untuk mengingat rute perjalanan jadi setiap berkunjung ke sini selalu ditemani teman-teman.

Sampai di pasar ini kita mendapatkan toko-toko yang menjual pernak pernik, mulai dari gantungan kunci yang berasal dari tulang berulang dengan bentuk imut unta, hingga hiasan telur unta, gelang dari tulang belulang. Tentu saja kita harus merogoh kantong lumayan mahal jikalau di hitung ke dalam rupiah, gantungan kunci perbuah saat itu 3 sdg setara Rp 10000, gelang 50 Sdg setara dengan Rp 150.0000 dan hiasan telur unta seharga 60 sdg, hmm tentu saja ini lumayan mahal untuk sekelas saya yang hanya berstatus seorang mahasiswa.

Kemudian perjalanan berlanjut ke bagian pasar lain yang menjual gelang khas India, semuanya made in India, pernah kan nonton film India para wanitanya suka memakai asesoris gelang yang banyak di tangan mereka, ketika mereka menari gelang-gelang tersebut membentuk melodi merdu.

Nah, di pasar ini bisa kita temukan gelang-gelang tersebut dengan berbagai macam warna dan bentuk, memang menggiurkan tentunya bagi kita para kaum hawa pencinta asesoris namun tak perlu khawatir harganya terjangkau mulai dari 6sdg s/d 15sdg perkotaknya. lumayan murah bila di bandingkan dengan harga jual di Indonesia, kebetulan ketika saya berada di Jakarta sempat mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan yang menjual asesoris bernuansa India dan ternyata harganya lumayan mahal padahal merk produknya sama dengan yang pernah saya beli di pasar ini.

Puas mencuci mata dengan gelang-gelang ala India, kemudian saya melanjutkan menuju ke deretan toko-toko yang menjual pashmina dan sari India. Di tempat ini bisa kita temukan juga toko-toko yang menjual pashmina, siapa yang tidak tau pashmina orang-orang di negara ini tidak memakai hijab dalam bentuk segiempat seperti layaknya muslimah di Indonesia, di negara ini mereka memakai hijab dari kain persegi panjang dengan ukurannya yang lebar, bisa dikatakan menyerupai selendang besar.

Saya banyak belajar dari mereka cara berhijab menggunakan pashmina, tentu saja ketika untuk membeli pashmina-pasmina cantik ini terjangkau harganya mulai dari harga 7Sdg s/d 20 sdg tergantung kualitas bahannya. Selain pashmina saya juga membeli bahan kain sari India, sari yang sering dipakai orang-orang India harganya relatif mahal dari mulai 60sdg-150 sdg, panjang setiap sari ini sampai 4 meter.

Bila dilihat dari sisi budayanya negara ini hampir ada sisi kesamaan dengan India, orang India melilitkan sari sebagai pakaian mereka,demikian juga orang-orang di negara ini memakai Tob (Tsaub=pakaian) dengan cara melilitkan di badan mereka namun ada sedikit perbedaan dalam cara pemakaiannya dengan orang-orang india, kemudian penduduk di negara ini suka memakai inai (henna) bagi yang sudah menikah.

Postingan kali ini tidak banyak foto yang bisa saya ambil di dalam pasar ini, mengingat padatnya pengunjung pasar dan banyaknya para pencopet menbuat saya khawatir untuk sekedar mengeluarkan ponsel dari tas, namun ada beberapa foto yang saya ambil ketika di dalam toko saat berbelanja.

Seharian penuh mengelilingi pasar ini belumlah usai, pasar yang luas dan terbatasnya waktu membuat saya tidak bisa menjelajahi setiap sudut pasar, insyaallah pada postingan selanjutnya akan ada cerita-cerita yang lebih menarik dan seru. Dan jangan bosan berkunjung ke sini untuk membaca cerita-cerita lainnya.

19 replies
  1. Mugniar
    Mugniar says:

    Di Makassar, ada beberapa toko kepunyaan orang India, menjual kain2 sari juga.
    Cerita2 kenangan seperti ini mesti cepat2 diblogkan ya, kalo kelamaan bisa lupa 🙂

    Reply
  2. Gen - Q
    Gen - Q says:

    Kebayang serunya berjalan-jalan ditengah tanah yang asing bagi kita, even itu sebuah pasar. Jadi termotivasi terus ketika melihat teman2 blogger posting tentang perjalanannya ke luar. Hmmm,, menunggu giliran saya ah ^^

    Salam kenal ya ukht, senang sekali berkunjung ke blog2 yang unik dan melukiskan perjalanannya di luar, soalnya bisa saya jadikan referensi buat saya (^_^)/

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *