Dua Tahun Bersama Profesor (2)

Pagi itu suasana kelas mulai ramai, inilah hari pertamaku masuk kuliah setelah menikmati libur semester pendek yang lumayan panjang. Sudah enam bulan aku tercatat sebagai mahasiswi KIIFAL banyak hal yang belum ku ketahui tentang kampus ini, semester lalu dosen-dosen yang mengajar di kelas semuanya laki-laki, memang jarang sekali aku menemukan dukturah perempuan, kalaupun ada mereka hanya mengajar di strata satu.

Sambil menunggu dosen masuk, untuk mata kuliah hari ini jadwal pagi aku dan teman-teman akan mempelajari maddah Ilmu Ashwat, yaitu ilmu yang mempelajari tentang bunyi (Fonologi). Penasaran akan sosok dosen yang akan mengajar mata kuliah ini, seperti lazimnya kuliah biasanya hari pertama dosennya tidak hadir, namun di sini berbeda pada awal perkuliahan dosennya tidak akan membolos.

Suara berat laki-laki mengucapkan salam di pintu kelas membuyarkan lamunanku, mataku tertuju ke arah pintu dan ternyata seorang laki-laki tinggi dan tegap, menggunakan baju khas Sudan, tangan sebelah kanannya memegang sebuah tongkat, tepat di bagian belakang laki-laki itu ada seorang pria paruh baya menjinjing tas kecil. Mereka pun masuk ke dalam kelas, pria paruh baya itu minta izin kepada laki-laki tersebut setelah meletakkan tasnya di atas meja.

Suaranya masih lantang beliau memulai salam kemudian memperkenalkan diri, nama saya “Yusuf Khalifah”, ternyata beliaulah dosen yang akan mengajarkan ilmu ashwat hari ini.

Dari perkenalan nama kemudian berlanjut kepada kisah tentang beliau dalam mengajar, dari serangkai cerita yang membuatku berdecak kagum adalam umur beliau sudah 90 tahun, namun fisik dan semangat dalam mengajar begitu kuat, mata kuliah yang beliau ajarkan menjadi salah satu mata kuliah tersulit karena sebelumnya aku belum pernah mempelajarinya, akhirnya Minggu pertama mengikuti perkuliahan dengan beliau terasa sangat singkat.

Minggu kedua perkuliahan maddah ilmu ahswat, beliau datang seperti biasanya dengan pria paruh baya, ternyata pria tersebut adalah supirnya, namanya Ahmad sebelum masuk kelas tadi aku sempat berpapasan dengannya dan berbicara sebentar.

Dari cerita Ahmad aku mengetahui saat ustaz Yusuf Khalifah naik tangga menuju kelas di lantai dua, beliau tidak mau dibantu Ahmad, tangan kirinya memegang tongkat sedangkan tangan kanannya memegang sisi tangga, dengan perlahan dan hati-hati menaiki anak tangga, sedangkan Ahmad berjalan di belakang beliau sambil menjinjing tas kecil, mata Ahmad terus mengawasi beliau karena takut akan keselamatannya ketika menaiki anak tangga, dan aku sering memperhatikan hal tersebut ketika berpapasan dengan Ahmad dan sang duktur ketika menaiki anak tangga

Minggu-minggu selanjutnya mengikuti perkuliahan dengan beliau sangat aku tunggu-tunggu, gaya mengajarnya sangat sabar, melafadkan ashwat (bunyi) dengan jelas dengan suara lantangnya, dari cerita beliau sudah berkunjung ke berbagai negara termasuk Indonesia.

Menjadi salah satu ulama yang ikut merumuskan translisasi Arab-Latin, sosok beliau membuatku bertambah kagum dengan pribadinya, setiap perkenalan diawal perkuliahan tidak pernah menyebut titel Profesor atau doktor namun cukup hanya nama saja, sehari-harinya di kampus beliau juga sangat ramah ketika berpapasan dengan mahasiswa pasti beliaulah yang akan menyapa sambil memanggil dengan panggilan “Ya bunayyati” (wahai anakku).

Sisi lain yang aku kagumi dari sosok ustaz Yusuf Khalifah adalah beliau tidak pernah absen dalam mengajar kecuali beliau kurang sehat atau sedang mendapat tugas keluar negeri, namun pada hari lainnya beliau akan mengganti perkuliahan tersebut.

Cerita menarik lainnya aku peroleh dari salah seorang teman kampusku, kebetulan beliau adalah pembimbing tesisnya, pada saat sidang tesis biasanya mahasiswa menyediakan makanan untuk para penguji dan pembimbing sidang, namun temanku tersebut tidak perlu memikirkan itu semuanya, beliaulah yang akan menyuruh asistennya untuk menyiapkan semua itu sehingga mahasiswanya bisa berkonsenterasi dalam menjalani sidang tesisnya.

Beliau dosen senior sekaligus salah satu pendiri kampus tempat di mana aku menuntut ilmu. Pada saat wisuda alhamdulillah aku mendapatkan kesempatan untuk berfoto dengan beliau, semoga saja Allah selalu memberikan kesehatan kepada beliau. ” Beribadah dan berpikir positif adalah salah satu kunci hidup sehat lahir dan batin”, itulah kalimat yang pernah ucapkan ketika di sela-sela perkuliahan kami.

Tentu saja segala ilmu yang telah beliau curahkan untukku akan selalu aku ajarkan untuk orang lain.
bersama ustaz yusuf khalifah saat wisuda

Khartoum, Febuari 2010.

Baca kisah profesor lainnya di postingan ini Dua tahun bersama profesor (1)

15 replies
  1. HP Yitno
    HP Yitno says:

    Dosen seperti itulah yang sebenernya memiliki banyak ilmu. Dia rama dan juga rendah hati. Dia nggak terlena dengan gelar profesor yang disandangnya.

    Reply
  2. muhammad ridwan
    muhammad ridwan says:

    tadinya, begitu buka posting ini, aku lihat ada angka dua (2) di bagian akhir judul posting. aku cari cari link ke bagian pertamanya tapi gak ada. eh, setelah baca tuntas, ternyata link kebagian pertamanya ada di bawah… 🙂

    setiap sesuatu ada jalan ceritanya. aku yakin, jalan cerita bersama sang profesor adalah jalan cerita yang gak pernah akan mampu di lupakan. aku yakin banyak indahnya, banyak yang mengagumkan. bagitu, tia?

    jadi pengen jadi pelajar lagi… 🙂

    Reply
  3. Damae
    Damae says:

    subhanallah.. keren sekali. sudah sangat jarang ditemui dosen2 yg benar2 mumpuni spt beliau. rata2 di kampus itu dosen sulapan, meski tetap ada juga yg memang beneran.

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *