Wajd Ya ‘Azizati

Dua hari yang lalu sebuah pesan masuk ke inbok facebookku, setelah aku membaca pesan tersebut rasanya ingatanku mengajak bernostalgia pada kisah dua tahun silam, saat kaki ini masih berpijak di Negeri Dua Nil, entah berawal dari mana aku mengenalnya namun persahabatan itu terjalin begitu saja, walaupun kami sekelas saat kuliah tapi jarang bertegur sapa.

Saat salat subuh aku menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, mataku masih setengah terbuka tapi tiba-tiba aku menabrak sesuatu seperti badan seseorang yang tinggi besar, benar saja setelah mataku terbuka lebar dan melihat siapa yang aku tabrak, oh..ternyata seorang perempuan yang badannya tinggi besar, dan aku hanya setinggi pinggangnya saja, oh..no.

Buru-buru aku memberikan sebuah senyuman termanisku sambil meminta maaf telah menabraknya, dan diluar dugaan ia pun menjawab ” limaza anti ya ‘azzizati, anti maridhah?”, ” ma’alaisy, ana nu’asah”, dari percakapan singkat di kamar mandi tersebut akhirnya aku tau namanya adalah “wajd”.

Sekelas tapi aku mengenalnya karena peristiwa subuh di kamar mandi, maklum saja di kelasku dihuni oleh lebih 50 mahasiswa dengan dominan kulit berwarna hitam, wajar kalau susah untuk membedakan asal negera mereka.

Hari selanjutnya aku pun mulai mencoba mengenal satu persatu penghuni ruang kuliah, sedikit demi sedikit aku mulai hapal nama mereka, walaupun terkadang aneh biasanya di Indonesia nama mereka digunakan oleh laki-laki namun di negara ini malah digunakanya oleh perempuan, ya termasuk “Wajd” yang aku kenal biasanya di Indonesia nama tersebut digunakan oleh laki-laki.

Bulan kedua aku mulai akrab dengan Wajd, ia sering mampir ke kamarku, walaupun terkadang hanya menanyakan kabarku dan teman-teman lainnya, namun satu hal yang aku sangat suka darinya ia selalu menggunakan bahasa arab fushah, dan tak segan-segan ia memperbaiki kesalahan uslub bahasaku yang masih menggunakan terjemahan Indonesia-arab, darinya aku belajar menggunakan bahasa arab yang baik dan benar, padahal ia mengerti apa yang aku bicarakan walaupun secara uslubnya salah.

Bulan-Bulan selanjutnya ia mulai meengajariku untuk memahami mata kuliah yang sulit, saat menghadapi mata kuliah balaghah, serta dirasah mutaqaddimah yang isi materinya didominasi oleh syair-syair arab, maka wajd lah yang setia mengajariku untuk memahami syair-syair tersebut, saat ujian mulai mendekat selepas salat asar aku pun menuju kamarnya sambil membawa muqarrar untuk belajar padanya.

Dengan sabar ia pun mengajariku, dan sering ia harus mengulang sampai beberapa kali hingga aku bisa memahami syair itu dengan baik.

Biasanya ia akan membuat coretan-coretan kecil di bukuku dengan bahasa arab fushah agar aku bisa mengerti penjelasannya. Hmmmm..kalimat yang paling aku ingat darinya ketika ia bertanya padaku ” Fahimti Ya ‘Azizati?”, sampai sekarang ia begitu setia pada kata “azizati.

Suatu sore ketika sedang ngesyai di teras kamarnya aku bertanya kenapa ia suka sekali memanggilku dengan sebutan ‘Azizati, dan ternyata panggilan tersebut untuk menunjukan rasa sayang terhadap sahabat.

Waktu berlalu tanpa terasa, hingga perpisahannya dengannya pun tiba. Malam itu saat aku sedang mempersiapakan kepulanganku ke tanah air, ia pun membantu membereskan barang-barangku dan berjanji esok akan mengantarkan kepulanganku ke bandara.

Pagi pun menyapa Khartoum, mobil jemputan menuju bandara pun sudah menunggu di depan asrama, wajd mengangkat koperku satu persatu ke lantai satu. Sepanjang perjalanan hanya diam yang menemani, tangannya memegang satu benda seperti sebuah buku yang terbungkus rapi, teriakan supir bahwa kami sudah sampai ke bandara menyentak lamunanku, setelah barang diturunkan, aku pun ceheck-in, nanti setelah check-in beres aku akan kembali menemuinya untuk berpamitan.

Check-in pun selesai walaupun tadi sedikit ribet diluar dugaaanku barang over weight, tapi untung saja petugas bandara menolongku sehingga semua barang bawaanku bisa lolos ke bagasi tanpa harus di bawa ke kabin.

Aku pun keluar menuju ruang tunggu untuk menjumpai wajd dan temannya lainnya, setelah saling meminta maaf dan memeluk mereka satu persatu, tiba saatnya berpamitan dengan Wajd, ia pun memelukku erta, dengan badannya yang tinggi besar ia nyaris menggendongku yang kurus kecil, ia terus menangis tanpa melepaskan pelukannya, terus terang saja aku speachless tak tau harus berkata apa, dan aku pun ikut menangis.

Ya, pada malam terakhir aku sempat menghadiahinya sebuah kerudung, ia sangat suka dan langsung ia pakai saat mengantarku ke bandara.

Sejenak kemudian ia melepas pelukannya, kemudian memberikan bungkusan ya dipegangnya dari tadi. Airmata terus mengiringi perpisahanku dengannya. Bungkusan itu begitu erat aku pegang hingga tak sabar ingin segera membukannya. Setelah di dalam pesawat aku pun membuka bungkusan tersebut, isinya sebuah buku yang berjudul ” As’adul Marah Fiil ‘alam”.

Beberapa bulan setelah kepulanganku ke tanah air, persahabatan ini tidak terhenti begitu saja, setiap saat aku mendapatkan pesan masuk ke inbokku darinya, terkadang kami juga saling chat untuk menyambung silaturrahmi. Dan sampai sekarang ini ia menjadi referensi tempat aku belajar ketika saat mengajar terdapat materi yang sulit aku pahami.

Translate:
Limaza anti ya azizati : Kenapa denganmu wahai sahabatku?

Ana nu’asah : saya ngantuk

Fahimti : kamu mengerti?

Anti Maridhah : Kamu sakit ?

14 replies
  1. muhammad ridwan
    muhammad ridwan says:

    persahabatan yang indah memang selalu begitu, bahkan sampai terpisah jarakpun, semua akan tetap indah. tak peduli dia indah di alam nyata ataupun hanya dalam impian semata. selamat menikmati keindahan persahabatan itu, tia…. 🙂

    Reply
  2. ana merya
    ana merya says:

    Iri…
    Mau juga donk punya sahabat kayak gitu. ^_^
    Tapi beneran salut deh,
    oh ya "As'adul Marah Fiil 'alam" artinya âp ya?.
    maklum nggak ngerti bahasa arab.

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *