Ramadhan di Rantau

Tanpa terasa ramadhan sudah memasuki hari ke delapan, kangen rasanya ingin mengupdate blog lagi sambil mengenang saat ramadhan di rantau beberapa tahun yang lalu. Dua kali puasa dua kali lebaran terlewati di perantauan nun jauh di benua Afrika sana, namun ada nikmat yang tak tergantikkan, nikmat yang Allah berikan selau berbeda saat menginjakkan kaki di negara berbeda benua.

Banyak hal yang membuat hati ini ingin kembali merasakan ramadhan di sana, meskipun diawal ada rasa sedih dan haru karena harus melewati ramadhan tanpa keluarga, namun lagi-lagi nikmat ukhuwah meleburkan segala rasa.

Tidak ada penjual takjil yang berjejeran di sepanjang jalan, hal ini sangat berbeda ketika mengingat nuansa ramadhan di tanah air, tapi suasana sore menjelang berbuka begitu semarak, setiap mesjid menyediakan menu bukaan khas arab memang benar-benar menandakan bahwa ini adalah bulan penuh berkah, berkah bagi mahasiswa asing yang sedang menuntut ilmu di negara ini, bisa berbuka dengan makanan yang lezat yang tersedia di mesjid .

Tatkala sore merambah langit pemandangan yang luar biasa aku dapati di depan baqalah (mini market), para pemiliknya membentang tikar sambil menyiapkan menu untuk berbuka, ketika datang waktu berbuka maka mereka akan membagikan takjil kepada orang-orang yang masih dalam perjalanan , baik itu pejalan kaki ataupun pengendara mobil, suasana yang tidak aku dapati di negeri ini.

Sedangkan di sudut asrama sederhana para mahasiswa membentuk kelompok untuk menyiapkan menu untuk berbuka, setiap sore kami mengantri mengambil takjil di cafetaria. Takjil khas Arab campuran Afrika memang selalu memikat, walaupun terkadang kami mahasiswa Indonesia punya menu khas nusantara. Kurma, karkade, adas, mulah dan beberapa makanan lainnya menjadi menu berbuka yang begitu nikmat.

suasana berbuka puasa di Sudan

Benua Afrika dengan gurun yang membentang, hanya ada pilihan iklim panas dan sangat panas bagi negara ini, ramadhan tiba bertepatan dengan musim panas. Ya. melewati puasa pertama adalah perjuangan, bukan rasa lapar yang mendera namun dahaga begitu menyengat, ditambah waktu puasa yang panjang, musim panas siang akan lebih lama bila dibandingkan malam, otomatis waktu berpuasa pun menjadi bertambah panjang.

Subhanallah, niat dan tekad bisa mengalahkan hawa nafsu yang mendera. inilah nilai tambah berpuasa di negara yang beriklim panas.

Malam pun tiba, salat tarawih adalah moment indah yang tak lekang dalam ingatan. Menginjakkan kaki di rumah Allah, suara Imam mahasiswa asal Somalia menguncang batin, bacaan 1 juz setiap malamnya tak menggoyahkan kaki, betapa merdu membuat hati menangis.

10 akhir ramadhan kuliah pun diliburkan, para mahasiswa berbondong ber’itikaf di masjid-masjid, tilawah, tadabbur kalam ilahi hingga kajian fiqh senantiasa menghiasi hari-hari itu, berkumpul dengan saudara-saudara dari berbagai belahan dunia lain, mereka datang dari turki, Malaysia, Thailand, Somalia, China, Filiphina, Nigeria dan negara lainnya. Ya, kami sama-sama menjadi hamba Allah di tempat ini, ingin mereguk keberkahan dan pahala di bulan yang penuh ampunan ini.

Selalu ada cerita di setiap ramadhan, ramadhan di rantau bukan sekedar kisah biasa namun selalu ada hikmah yang Allah berikan meski raga sudah terpisah dengan jiwa-jiwa yang selalu menenami dua kali ramadhan. Begitu dashyat hingga hati meniatkan kembali ke benua yang sama namun berbeda negara, insyaallah biiznillah setelah mengenapkan setengah din :).

36 replies
  1. Arya Poetra
    Arya Poetra says:

    "10 akhir ramadhan kuliah pun diliburkan, para mahasiswa berbondong ber'itikaf di masjid-masjid, tilawah, tadabbur kalam ilahi hingga kajian fiqh senantiasa menghiasi hari-hari itu, berkumpul dengan saudara-saudara dari berbagai belahan dunia lain, mereka datang dari turki, Malaysia, Thailand, Somalia, China, Filiphina, Nigeria dan negara lainnya".

    Keren!! Siapa tahu kampus2 serta perusahaan di sini mau menerapkan seperti itu yah..

    Reply
  2. Millati Indah
    Millati Indah says:

    ini Ramadhan ke-5 saya di Aceh, dan entah yang keberapa Ramadhan di rantau. *kelamaan merantau :D*

    salut sama para pemilik baqalah yang 'berlomba' memberikan ta'jil bagi orang-orang yang masih dalam perjalanan. sementara di tanah air kita orang 'berlomba' menjual ta'jil, mereka 'berlomba' memberi ta'jil demi mengharap pahala.

    Reply
  3. isma
    isma says:

    kenangan yang sangat berkesan pastinya. justru biasanya kalau di rantau solidaritas sesama orang Indo akan tambah kuat, karena minoritar. dan makanannya itu, waduuuh … rasanya pasti beda ya. di india sini serba kari, baru hari pertama sudah bosan 🙁

    Reply
  4. Insan Robbani
    Insan Robbani says:

    kalau membaca cerita diatas, hanya bisa bersyukur yg diberikan iklim tropis yang sejuk dan waktu puasa yg relatif lebih singkat.

    Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

    Reply
  5. JUNAEDI
    JUNAEDI says:

    Biar puasa ramadhan di rantau, tapi tetap jelas kan waktu berbukanya? Banyak lho saudara kita yang berpuasa tapi gak jelas kapan "berbukanya" 🙂

    Reply
  6. Lisa Tjut Ali
    Lisa Tjut Ali says:

    kisah Ramadhan di rantau memang mengharukan ya, jauh dr keluarga, namun klo udah kumpul dgn sesama muslim pasti sangat kuat silahturrahminya, sehingga terobati kerinduan itu

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *