Pesona Tanah Gayo

Beberapa hari meninggalkan rumah rasanya kangen berlipat-lipat, setelah menghabiskan waktu selama 3 hari di tanah gayo, banyak hal yang membuat saya rindu akan rumah terutama suasana kamar. Padahal dari hari pertama menginjakkan kaki di tanah gayo saya ingin menulis postingan ini ,tapi berhubung perjalanan selama hampir 8 jam membuat tubuh sedikit lelah.

Lewat jalan darat menumpangi minibus, udara dingin menyapa saat memasuki dataran gayo. Tahun 2007 terakhir kalinya saya mengujungi daerah ini. Hmmmm, udara dinginnya mengingatkan saya akan suasana akhir musim dingin di Khartoum. Tapi saya tidak sedang berhayal untuk kembali ke sana, hawa dingin ini ternyata mengulang banyak kenangan.

Kebetulan perjalanan kali ini cukup menarik juga, sebagai refeshing dari kesibukan kampus. walaupun tujuan utama dari perjalanan ini sebenarnya untuk hal penting lainnya, namun mengunjungi objek wisata yang ada di daerah ini menjadi hal yang penting juga .

Sepanjang jalan melewati bangunan-bangunan yang runtuh akibat gempa yang menguncang daerah ini beberapa bulan yang lalu, masih tersimpan dalam memoriku saat berbagai stasiun TV menayangkan berita gempa di daerah ini “Lets Pray For Gayo“. Kini gayo kembali berbenah.

Barangkali masih ada yang belum tau di mana tanah Gayo itu terletak, kalau mengingat kejadian gempa yang melanda Aceh beberap bulan silam pasti bisa mengembalikan ingatan kita semua.

Hal lain yang membuat salah satu Kabupaten di Aceh ini terkenal adalah kopinya, siapa yang tidak tau kopi Gayo yang sudah termasyhur di dunia itu. Walaupun masih dalam satu propinsi jujur bisa dihitung dengan jari berapa kali saya mengunjungi daerah ini.

danau gayo

Tepatnya hanya 3 kali dan terakhir kali pada tahun 2007, wah udah lama ya hampir 6 tahun saya tidak menginjakkan kaki di sana. Lalu alasan apa yang membuat saya terdampar ke sana. Pada awal November terutama tanggal 3 pasti pada tau kan ada moment apa, apalagi kalau bukan ikut tes penerimaan CPNS.

Kebetulan salah satu kampus negeri di sana menerima dosen dengan spesifikasi jurusan saya, saya pun akhirnya berangkat ke sana.

Lanjutttt, namun di postingan ini saya tidak akan menceritakan perjuangan saya mengikuti tes CPNS. Namun yang lebih menarik adalah perjalan serta pesona alam yang tersimpan di tanah Gayo ini.

Dengan menumpangi mini bus L-300 dari kabupaten Bireun, jarak tempuh sekitar 100 km atau hanya 3 jam perjalanan saya bisa sampai ke daerah ini. Saat mini bus memasuki daerah daratan gayo hawa dingin mulai terasa, dan saya siap-siap merapatkan badan dengan jaket, maklum saja saya tinggal di salah satu kabupaten yang iklimnya panas.

kopi gayoSepanjang jalan kebun kopi berjejeran, inilah aset yang menjadi kebanggaan warga daerah ini, ya “KOPI” si hitam yang menjadi primadona bagi yang suka menikmatinya. Tiga jam perjalanan saya lalui tanpa rasa letih, pemandangan dan udara dingin sudah menghibur saya selama perjalanan.

Memasuki Takengon yang merupakan ibukota kabupaten Aceh tengah ini, mengingatkan saya saat melakukan perjalanan ke Danau Toba.

Dua daerah ini sama-sama mempunyai danau, kalau di Medan punya danau Toba sedangkan di Takengon danau Laut Tawar. Tanoh Gayo di keliling gunung membuat daerah ini menjadi dingin, kalau untuk seputaran kota dinginnya masih batas biasa. Namun saat kita mengunjungi daerah perkampungan maka hawa dinginnya bisa berkali lipat.

Hari kedua, ceritanya masih edisi jalan-jalan sambil melihat lokasi ujian. Setelah cek dan ricek lokasi, saya dan teman-teman menuju danau Laut Tawar. Danau ini menyimpan berjuta pesona, sambil menikmati segelas kopi Gayo saya pun melepas pandangan ke hamparan danau yang luas itu. Kebetulan sisi danau yang saya kunjungi terdapat sebuah gua bernama “loyang Koro”, namun pengamatan saya sih seperti kurang terawat. Akhirnya saya hanya jeprat-jepret di depan gua tersebut, soalnya kalau mau masuk harus bayar lagi.

Setelah puas melihat-lihat keadaann gua dari luar, saya dan teman-teman duduk di sisi danau sambil menikmati pemandangan. Ciptaan Allah begitu indah dan maha dahsyatnya, padahal ini hanya bagian kecil saja yang baru aku jelajahi dari tanoh Gayo ini.

Reader ceritanya ini belum berakhir, jangan lupa untuk mampir lagi di blog ini karena masih ada hari ketiga perjalanan saya menuju tempat wisata Puteri Pukes.

8 replies
  1. muhammad ridwan
    muhammad ridwan says:

    membayangkan di saat hujan, ada di pinggir danau Laut Tawar sambil menikmati secangkir kopi hitam ditemani teman teman blogger dari aceh. mungkin, saat itu akan menjadi salah satu saat paling indah yang pernah saya lewati dalam hidup ini…
    🙂

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *