Marfu’ah

Marfu’ah nama siapa ?, nama ini punya sejarah tersendiri bagi saya, jaman kuliah dulu di kosan ngak punya TV, saya cuma punya radio butut yang selalu setia menemani istirahat dari rutinitas kampus.

Kalau dengar radio pasti dong punya acara favorit, walaupun saya mudah bosan tapi acara yang paling saya suka ya itu request lagu favorit, bukan hanya sebatas request lagu saja tapi bisa juga kirim salam, dan biasanya bisa lewat telpon ataupun sms. Layaknya penyiar saat itu punya nama on air, saya sebagai pendengar akhirnya kepikiran juga saat request lagu lewat sms dan telpon untuk memakai nama samaran.

Dan setelah mencari-cari nama yang tepat akhirnya saya memilih Marfu’ah, kenapa harus nama itu?, jaman saya sekolah dulu salah seorang guru di sekolah saya suka memanggil murud-muridnya dengan nama Marfuah, ataupun Rabumah.

Saya pun tertarik menggunakan nama itu, sejak saat itu saya resmi memakai Marfu’ah. setiap kali menelpon ke radio penyiarnya pasti bertanya:” dengan siapa ini? “, “ini dengan Marfu’ah”.

Teman-eman di kosan tidak ada yang tau kalau saya menggunakan nama ini saat request lagu, kalau diingat masa itu saya bisa konyol juga, jika kejadian itu terjadi sekarang pasti saya akan malu dengan umur.

Waktu pun berjalan, karena sering menelpon dan sms request lagu, sang penyiar pun sudah hapal dengan nama saya, ya itu “Marfu’ah”. Tahun 2009 saya melanjutkan kuliah ke Khartoum, dan cerita tentang Marfu’ah belum berakhir, setelah tiba dan menetap di sana selama 2 tahun, saya pun masih rajin mendengar live streaming radio favorit saya, walaupun terkadang harus menyesuaikan selisih waktu sampai 5 jam.

Masih suka request lagu favorit, tapi hanya lewat sms saja tanpa lupa mencantumkan nama Marfu’ah dan lokasi tempat di Khartoum, kalau nelpon kan mahal dari luar negeri, dan sang penyiar ternyata ngeh juga ternyata Marfu’ah sudah tidak di Aceh lagi. Tentu saja penyiar akan menyapa pendengar setianya setiap on air, terutama pendengar yang berdomisili diluar negeri termasuk Marfu’ah yang sedang mendengar live streaming dari Khartoum.

Haha, kalau ingat cerita Marfu’ah ini tenyata menyimpan kenangan tersendiri bagi saya, di akhir tahun menjelang kepulangan saya ke tanah air, saya tidak mendengar radio lagi dan sejak itulah nama Marfu’ah itu hilang bersama jejak-jejak waktu,namun kisahnya masih terkenang sampai sekarang.

Aceh, membangkitkan kembali semangat menulis sambil mengumpulkan serpihan-serpihan cerita.

9 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *