Mengajar itu Belajar

Postingan ini pernah saya post di blogdetik, rasanya demi mengembalikan ruh mengajar akhirnya saya post kembali di blog utama ini, ya agar tak pernah tergusur oleh waktu. Bagi saya sangat penting ibarat men-charge kembali semangat yang naik turun, memperbanyak syukur dan menyedikitkan mengeluh. Apapun tantangannya semoga rasa ikhlas selalu menyertai.
Alhamdulillah akhirnya bisa kembali menulis di blog, setelah kesibukan yang menyita waktu di dunia nyata membuat blog sedikit karatan. Kesibukan di kampus menyita waktu, tenaga dan pikiran. Dari mulai menyelesaikan penelitian karena dikejar-kejar deadline hingga mengatur jadwal pembinaan mentoring Al-qur’an untuk semester 1 dan 3, alhamdulillah semua terselesaikan dengan baik disela-sela jadwal mengajar yang juga padat.

Banyak hal yang ingin saya tulis di blog ini, terkadang saat lowong ingin rasanya menyentuh keyboard untuk berteman dengan sang kata, walaupun cuma menulis sepenggal hingga akhirnya bisa juga mosting tulisan kali ini. Ya, itulah kehidupan yang terus bergerak seperti roda, satu hari saja berlalu rasanya seperti menghitung detik saja.

Mengajar adalah profesi yang menjadi pilihan saya sampai sekarang, walaupun kedua orangtua bukan seorang guru, namun jiwa mengajar tertanam begitu kuat pada keluarga, hingga saya dan kedua adik pun mempunyai profesi yang sama yaitu menjadi pengajar di sekolah.

Hidup terus berjalan dan waktu akhirnya membawa saya menjadi pengajar pada sebuah kampus negeri di kampung halaman, tentunya hal ini sesuai dengan cita-cita untuk mengajarkan kembali ilmu yang telah saya dapatkan selama ini.

Memasuki semester ini semangat untuk terus mengajar rasanya menjadi berlipat-lipat, ada kepuasan batin yang tidak bisa diungkapkan dengan kata tatkala melihat wajah-wajah mahasiswa yang begitu ceria, karena penjelasan materi yang saya berikan dapat mereka pahami dengan baik. Rasa lelah pun akhirnya hilang melihat mereka juga bersemangat dalam mengikuti perkuliahan.

Mengajar bukan hanya sekedar menyampaikan materi perkuliahan kepada anak didik, namun ada beberapa faktor lain yang mendukung kelancaran proses perkuliahan di dalam kelas, tentunya sebagai pendidik saya juga harus dekat secara emosional, mengenal karakter anak didik akan memudahkan saya dalam mengajar. selain itu mengajar bukan hanya mentransfer ilmu yang saya punya, namun sebagai pendidik juga harus bisa menjadi qudwah bagi anak didiknya.

Mengajar itu belajar, benar seperti kata pepatah bahwa ilmu yang tidak diamalkan bagai pohon yang tidak berbuah. Saat mengajar maka saya harus terus belajar, membaca buku sebagai referensi terhadap materi yang saya sampaikan saat perkuliahan, mengajar di perguruan tinggi menuntut ilmu terus berkembang, terlebih lagi ketika perkuliahan dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis mahasiswa.

A’la kulli hal proses ini begitu saya nikmati sampai sekarang dan tentunya belajar itu tak terbatas waktu, sesuai kata pepatah juga tuntutlah ilmu dari mulai masih ayunan hingga liat lahat.

Menjadi pengajar juga harus bermetamorfosis, hal ini dibutuhkan agar dalam mengajar tidak mononton dan kaku, selain butuh metode serta media pembelajaran yang tepat, tentunya sebagai pengajar saya harus bisa menjadi motivator bagi anak didik, sebelum menyampaikan materi biasanya saya memberikan movitasi agar nantinya dalam perkuliahan anak didik terus semangat, hal yang terus saya ingatkan kepada mereka adalah membudayakan membaca, karena itu kunci utama dalam memperoleh ilmu.

Iqra’ adalah ayat pertama kali yang diturunkan, berpijak dari hal tersebut tentunya membaca itu sangat perlu, setelah membaca hal penting lainnya adalah menulis, kedua hal tersebut terus saya gaungkan kepada anak didik disela-sela mengajar. Membaca dan menulis menunjukan kemajuan penduduk pada satu negara.

Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti stadium general di kampus, pematerinya seorang guru besar berasal dari jakarta, beliau menjelaskan bahwa seorang dosen itu harus bisa memberikan ilmu baru pada setiap perkuliahan, sehingga butuh metamorfosis agar tidak mononton dalam mengajar. Mengajar itu belajar semoga ilmu yang diamalkan terus berkembang dan bermanfaat bagi anak bangsa.

Bagi para pendidik dimana pun berada semoga terus semangat dalam menebar ilmu, dan jangan bosan untuk terus belajar, Insyaallah ini tugas mulia. Ya Rabb nawwir qulubana binuuri hidayatik.

15 replies
  1. armae
    armae says:

    Kalau lingkungan kondusif untuk belajar, memang rasanya sampai kapanpun kita ga akan pernah bosan untuk belajar yaa,. sekalipun itu bukan tuntutan profesi.

    pasti mahasiswanya kak Tia banyak yang ngefans sama kakak, kalo aku waktu kuliah dulu jarang ada yang dekat secara emosional kak. Mungkin hanya sebatas kenal atau ingat nama…

    Reply
    • meutia
      meutia says:

      mengajar juga punya tantangan tersendiri rie, dan pendidik juga bukan makhluk yang sempurna, menyenangkan atau tidak tergantung masing2 anak didik yg menilai. yang jelas sebagai pendidik pasti akan memberikan yg terbaik bagi anak didiknya..

      Reply
  2. Gulunganpita
    Gulunganpita says:

    sejak belajar lebih banyak tentang psikologi pendidikan, saya banyak berpikir bahwa semua hal adalah belajar, bahkan ketika sedang menghadapi siswa yang malas belajar,, berarti saya harus mengajari mereka bagaimana belajar melawan rasa malas mereka untuk belajar..
    merasa bahwa belajar itu ya hal yang selalu kita lakukan..
    selamat pagi kak 🙂

    Reply
  3. HM Zwan
    HM Zwan says:

    al ilmu bila amalin kas syajarin bila tsamarin,mahfudzot kelas satu dulu hehehe..iya mbk,sampai sekarang impian saya ya ngajar,ketagihan gimanna gitu hehe…

    Reply
  4. Emi Syofyan
    Emi Syofyan says:

    Bener banget, mbak…dengan mengajar kita kembali diajak untuk membuka buku dan mencari kesana kemari dan kita pun menemukan sesuatu yang mungkin sudah terlupakan…. dan kita belajar lagi deh……….:)

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *