Emak Cinta Tiada Akhir

Emak, begitulah aku memanggilnya dialah wanita yang sangat berjasa dalam hidupku. Menulis tentangnya takkan habis dalam semalam, ada rasa yang menyesakkan dada saat aku harus merangkai kata menceritakan kisah perjalanan hidup ini.segala hal yang sudah aku raih saat ini tidak terlepas dari do’a, dan dukungannya,

Ingatan ini memutar kembali segala kenangan masa kecilku saat itu, aku terlahir sebagai anak pertama dari enam bersaudara, walaupun secara materi tidak berlimpah, namun aku sangat bahagia bisa terlahir dari seorang wanita yang tangguh.

Emak dengan segala kisahnya telah memberikan banyak pelajaran hidup, menjalani hidup yang keras memang membutuhkan kerja keras dan do’a, segala harapan emak di masa mudanya dulu, Allah kabulkan satu persatu melalui kami anak-anaknya.

Emak sering menceritakan bagaimana kisah masa kecilnya dulu, hidup serba kekurangan dengan jumlah saudara yang banyak, saat harus berbagi makanan yang sedikit dengan saudara-saudaranya yang lain, saat nasi harus dicampur dengan singkong karena mereka tidak punya beras yang cukup.

Saat emak seorang anak kampung yang berkeinginan menjadi seorang guru namun cita-citanya kandas hanya karena ia tamatan madrasah bukan tamatan SMP, sehingga ia tidak terima di sekolah guru walaupun telah mengeluarkan uang 60 ribu, pada saat itu jumlah tersebut bukan jumlah yang sedikit bagi keluarga emak yang tidak mampu.

Nenekku seorang penjual kue, untuk membantu ekonomi keluarga emak menjual kripik di sekolah, setiap jam
istirahat dan dagangannya habis emak berlari menuju rumah untuk mengambil dagangan tambahan untuk kembali dijual. Begitulah masa muda emak sampai akhirnya bisa menyelesaikan pendidikannya di SMA.

Emak suka menceritakan kisahnya dulu sebagai penyemangat bagi anak-anaknya, ia ingin mengajarkan arti
hidup, walaupun aku sering terharu dan menangis mendengar kisah di masa lalunya. Kini waktu berlalu dengan cepat, usiaku menginjak kepala tiga dan bukan usia yang muda lagi.

Tiga puluh tahun sudah berlalu dan berapa banyak kisah yang terlalui dengan emak, beberapa diantaranya sangat berbekas dalam ingatanku sampai sekarang.

Kisah ini begitu kuingat, saat kelas empat SD emak memutuskan untuk berjualan, saat itu Aceh masih dalam
masa konflik, dengan membuka warung kecil di depan rumah, emak akhirnya berjualan kue dan mi caluk, kebetulan rumah kami bersebelah dengan sebuah Sekolah Dasar, hal ini juga menguntungkan emak, karena anak-anak sekolah saat jam istirahat ikut membeli dagangan emak.

Saat itu aku begitu bersemangat membantu emak, setiap pulang sekolah aku mencuci piring-piring kotor yang begitu banyak, namun aku lakukan dengan senang hati. Hatiku terenyuh saat itu melihat emak harus bangun pukul 4 pagi demi menyiapkan dagangannya, pukul 6 pagi dagangan emak sudah tertata rapi di warungnya.

Begitulah kegiatan emak setiap harinya tanpa pernah mengeluh, dan ia masih tetap bisa mengurus kami anak-anaknya dengan baik. Saat usiaku menginjak 12 tahun, tepatnya aku baru saja menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar, ketika itu aku merengek ingin melanjutkan pendidikanku ke pondok pesantren.

Pada masa itu keadaan ekonomi sulit, penghasilan ayah tidak cukup untuk meluluskan keinginanku untuk belajar di pondok pesantren, namun emak saat itu rela menjebol celengannya demi cita-citaku.

Saat itu sedikit demi sedikit aku mulai mengerti perngorbanan seorang emak, aku mulai merasakan haru dengan yang emak lakukan untukku. Pernah suatu hari di tahun ketiga pendidikanku di pondok pesantren aku merengek dibelikan sprei baru kepada emak, lewat telepon aku minta supaya emak membelikan sprei baru, sprei lamaku sudah lusuh dan jelek.

Suara emak diujung telpon dengan lembut menjelaskan bahwa saat itu ia belum punya uang untuk mengabulkan permintaanku, entah saat itu aku ngambek dan tanpa salam sambungan telpon aku putus, setelah peristiwa itu semua berjalan biasa saja, tanpa ada rasa bersalah kepada emak.

Beberapa hari kemudian lewat seorang tetangga yang menjenguk anaknya di pondok pesantren emak menitipkan
sebuah sprei baru yang aku inginkan, betapa kagetnya aku dengan titipan emak itu.

Sesaat setelah aku membuka titipan emak azan pun berkumandang, aku bergegas menuju masjid, entah kenapa saat solat tangisku pecah mengingat perbuatan yang telah aku lakukan kepada emak, walaupun dengan keadaan terbatas emak tetap ingin mewujudkan keinginanku, batinku berontak langsung aku menelpon emak sambil terisak aku meminta maaf atas kesalahanku, emak tidak pernah marah dan selalu menenangkanku walaupun banyak kesalahan yang aku lakukan.

Emakku bukan seperti ibu-ibu lainnya yang bisa menunjukan rasa sayang lewat kata, emak dengan kehidupannya
yang keras di masa muda, sehingaa rasa sayang yang ditunjukkan kepadaku dan adik-adik dengan cara yang berbeda, jujur saja momen pelukan yang paling membekas diingatanku itu justru terjadi lima tahun yang lalu, tepatnya saat aku akan berangkat ke Khartoum melanjutkan pendidikan S2, pelukan yang begitu erat
dan lama disertai isak tangis, moment yang begitu langka bagiku, dan saat itu juga sebuah ucapan yang membuat aku semakin terisak dalam pelukannya, kalimat yang sederhana namun menunjukan cintanya yang tiada akhir.

“anakku, ingatkan saat engkau merengek ingin kuliah ke Kairo, saat itu emak tidak bisa mewujudkan keinginanmu karena tidak ada biaya,namun taukah kamu anakku, saat itu emak berdo’a suatu saat engkau akan terbang ke belahan negeri lain walaupun bukan Kairo”

Tangisku pecah, bahkan saat menulis tulisan ini, mengingat kembali kalimat itu rasanya menyesakkan dada, apa yang aku dapatkan sekarang tidak lepas dari do’a orangtua.

Diakhir kisah ini, ada kalimat yang emak ucapkan beberapa hari yang lalu, saat aku mengabarkan bahwa aku ikut dalam program 1000 doktor, emak berkata “Cita-cita harus terus dikejar, namun keinginan emak kepadamu sekarang sederhana saja, ingin melihatmu mengenapkan setengah din”.

Harapan emak yang belum bisa aku wujudkan, semoga seperti kata emak bahwa cintanya takkan ada akhirnya sampai kapanpun. Untuk emak peluk cium dari jauh, sudah lama aku tak menjenguk emak karena kesibukan
di kampus, namun suara emak masih bisa aku dengar setiap malam lewat telpon.

18 replies
  1. Pakde Cholik
    Pakde Cholik says:

    Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.

    Jangan lupa cek email ya, ada berita penting
    Terima kasih.

    Reply
  2. Wenny Pangestuti
    Wenny Pangestuti says:

    Saya bisa merasakan perasaan mbak dalam kisah sprei di atas. Kejadian yg hampir mirip dg yang saya alami. Membaca tulisan mbak, sya melihat sosok emak mbak mirip dg sosok bapak saya. "tak biasa menunjukkan rasa sayang lewat kata".

    Reply
  3. Haya Nufus
    Haya Nufus says:

    Kita sama di bagian pingin sekolah di pesantrennya Tia…sama2 kemauan sendiri ya… Salam untuk mamak ya Tia semoga sehat dan behagia bersama keluarga, dulu sering lihat kalau mamak Tia datang.

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *