Cerita Pagi di Angkot

Sudah lama rasanya tidak naik angkot apalagi semenjak menjadi anak kosan, sehari-hari mengajar ke kampus tidak perlu pagi buta menunggu angkot di pinggir jalan, ataupun sehabis magrib saya masih di angkot menuju jalan pulang ke rumah.

Kemarin saya memilih naik angkot menuju tempat tujuan, karena kemarin merupakan jadwal saya harus menjemput
mahasiswa yang sedang melakukan praktek mengajar (PPL) di sekolah, tanpa terasa sudah tiga bulan mereka ditugaskan untuk praktek di sekolah tersebut.

Kebetulan jarak sekolah dengan rumah saya lumayan jauh, kalau naik angkot hampir satu jam lamanya, si angkot suka ngetem menunggu penumpang penuh baru bergerak jalan, tapi mau gimana lagi karena kondisi badan saya sedang tidak fit, ditambah dengan iritasi mata yang saya alami beberapa hari yang lalu akhirnya saya memilih memakai angkot ke sekolah tersebut.

Biasanya saat supervisi mahasiswa di bulan pertama, kedua dan ketiga saya memilih naik motor, selain waktunya singkat bisa juga menghirup udara segar tanpa asap rokok.

Tidak perlu menunggu lama  angkot kemarin, karena hari Sabtu bukan hari kerja maka terkadang agak lama menunggu angkot lewat dari jalan dekat kosan saya, sebelumnya saya singgah di warung pinggir jalan untuk membeli tisu karena hal menyebalkan nanti yang biasa dapatkan di angkot nanti adalah orang merokok dengan santainya tanpa memperdulikan orang lain disekitarnya, beberapa kali saya pernah beradu mulut hanya karena
penumpang laki-laki bebas merokok.

Setiap naik angkot begitu banyak cerita yang saya dapatkan, entah itu tanpa sengaja pembicaraan antar penumpang terdengar, ataupun kejadian-kejadian yang terjadi antara kernet dan penumpang sendiri,seperti pagi
ini ada beberapa kejadian yang saya dapatkan saat naik angkot, antara iba, miris dan sinis.

Saat menyetop angkot pagi kemarin saya sedikit lega karena penumpangnya semuanya perempuan, artinya tidak akan ada yang merokok dengan bebas di angkot hari ini, di tengah jalan naik seorang perempuan tua, dengan susah payah ia masuk ke dalam angkot, kebetulan saya duduk dekat dengan pintu ikut membantu memegang tanganya agar ia mudah masuk ke dalam angkot.Setelah penumpang hampir penuh tiba-tiba angkot berhenti.

Si supir berteriak “ Ibu-ibu tolong pindah ke angkot yang di belakang itu ya”, si kernet penimpali “  Ya, karena kami tiba-tiba kami ditelpon untuk mengambil rombongan ke desa A”.

Ya sudahlah kami memaklumi lagipula ongkosnya belum dibayar, saya dengan penumpang lainnya pun berpindah angkot. Di angkot kedua saya duduk bersebelahan dengan nenek tua tadi, si kernet di angkot ini mulai meminta ongkos kepada penumpang, entahlah saya sedikit tidak suka dengan caranya meminta ongkos kepada penumpang, nada bicaranya sedikit kasar menurut saya,

Lagi pula penilaian saya ini berdasarkan pengamatan selama ini saya naik angkot, dengan begitu saya suka mengamati tipe-tipe kernet angkot (hehe mungkin lain kali bisa bikin penelitian tentang kernet angkot ya).

Si kernet tidak sabaran, untung saya langsung mengeluarkan uang  pas dari saku baju dan menyerahkan kepadanya,
tiba ia meminta ongkos kepada si nenek suaranya agak membentak, maklum saja orangtua suka lama mengeluarkan uang dari dompet, saya hanya menimpali “

Sabarlah bang, maklum orangtua”, si kernet tetap mengatakan cepat-cepat, si nenek pun menyerahkan ongkosnya ke pada kernet, “Nek, kurang ini ongkosnya tambah lagi” si nenek memeberikan uang dua ribuan, “Nek, ini masih kurang”, dengan suara sedikit membentak ia berkata “ kalau ngak punya uang jangan naik angkot, jalan kaki saja”.

Serrrrr, darah saya naik, entah kenapa saya marah sekali mendengar kata-kata abang kernet tadi, kalau ongkosnya
kurang ya jangan membentak, si nenek hanya menjawab saya tidak punya uang lagi. “Kalau ngak punya uang turun saja Nek”, aihhhhhhh 1000 kali kesal dan sudah tidak sabar mau menjawab perkataan si kernet tadi.

“Hey bang, berapa kurang ongkos si nenek”, dan jawabannya Cuma kurang 1000 perak, ya Allah rasanya
melihat kondisi nenek yang sudah renta, dengan pakaian yang lusuh rasanya siapa pun tidak akan tega berkata seperti itu, saya keluarkan uang 1000 dari tas lalu aku berikan kepada si kernet, dengan kesal “ ini saya bayar yang
kurangnya, lain kali abang harus belajar sopan kepada orangtua”, si kernet memandang saya dengan wajah kesal, saya cuek saja.

Tak lama kemudian dua orang gadis cantik, wangi dengan baju rapi pun naik, aihhhh reaksi si kernet tiba-tiba menebarkan senyum, ah berbanding terbalik dengan wajah yang ia perlihatkan saat kesal dengan si nenek, dari pembicaraan dua gadis itu terdengar kalau mereka tidak pernah naik angkot, mereka menutup hidung dengan tisu
sepanjang perjalanan, selang beberapa waktu kemudian si kernet meminta ongkos kepada kedua gadis itu.

“Dek, kurang ini ongkosnya 5000 lagi” , kedua gadis itu hanya tersenyum sambil mengeluar uang dua lembar dua ribuan, si kernet berkata masih kurang 1000 lagi tapi ya sudahlah tidak apa-apa.

Apaaaaaaaaa?

Si kernet bisa berkata manis kepada dua gadis walaupun ongkosnya kurang, sungguh terlalu, yang jelas sepanjang perjalanan saya kesal.

Jam tangan saya menunjukan pukul 8.30 saya hampir sampai ke tujuan, si nenek turun duluan, dan saya berteriak “ Minggir bangggg”, saya pun turun dengan kesal saya berkata “Tolong lain kali ongkos angkot resmi ditempel, jangan seenaknya mengatakan kurang ongkosnya”.

Si kernet kembali memperlihatkan wajah kesalnya, entah apa yang ada dipikirannya wallahu’alam.

13 replies
  1. Aireni L.B.
    Aireni L.B. says:

    diskriminasi usia itu namanya *ikut gregetan membayangkan kernetnya marah2 sama nenek*
    kalo di malang angkotnya sudah standar mbak, kalaupun ada org baru yg tanya ongkos gak bakalan dinaikkan sama si supir 🙂

    Reply
  2. Yati Rachmat
    Yati Rachmat says:

    Si Kernet pasti abis menenggak minuman keras tuh dan dia gak ibu tapi dilahirkan dari lubang batu. Kurang ajar dia. Kalau ada bunda pasti bunda juga ikut sewot, bunda catat nomor mobilnya, turun bersama si nenek.

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *