Kenali Anak Disleksia (1)

Assalamualaikum…. I love monday, ya tanpa terasa sudah senin lagi dan pukul 3 pagi tadi saya bersiap- siap akan berangkat ke Medan, dengan mata setengah mengantuk akhirnya pukul 4  dijemput juga oleh supir mobil rental.

Perjalanan ke Medan kali ini adalah tugas penelitian yang harus team saya selesaikan paling lambat akhir bulan ini. Kebetulan sepanjang perjalanan hari ini hujan turun dengan derasnya wajar saja ini sudah memasuki musim hujan, jadi jangan lupa juga sedia payung sebelum hujan biar ngak kehujanan.

Kembali lagi ke cerita penelitian team saya, judul yang kami angkat mengambil sample tentang anak disleksia, memang untuk mengetahui anak tersebut disleksia kami membutuhkan  bantuan psikolog untuk melakukan tes terhadap anak tersebut.

Sebelumnya apa itu disleksia? disleksia adalah salah satu gangguan yang mempengaruhi baca, tulis dan berhitung yang  pada umumnya terjadi pada usia anak  7 hingga 8 tahun. Banyak orang menganggap bahwa disleksia dapat mempengaruhi intelegensi atau kecerdasan anak, namun anggapan itu tidaklah benar karena rendah atau tinggi kecerdasan anak bisa saja menderita disleksia, justru banyak anak yang menderita disleksia kecerdasannya itu normal ataupun diatas rata-rata IQ >90.
Untuk mengenali secara kasat mata memang ada gejala-gejala yang dapat dikenali dari penderita disleksia ini, namun gejala-gejala tersebut akan terlihat jelas saat anak mulai masuk sekolah, dimana anak mulai belajar membaca, menulis dan berhitung.
Diantara gejala-gejala tersebut yaitu : sulit memahami apa yang didengar, lamban dalam membaca dan menulis, saat menulis tidak ada spasi, sulit dalam mengeja misal “sepeda” menjadi “sedepa” antara huruf “p” dan “d”, memiliki kepekaan rendah dalam fonologi.

Disleksia gejalanya beragam sehingga sulit untuk dideteksi, diagnosis gangguan ini membutuhkan banyak faktor penilaian  misalnya kondisi keluarga, riwayat kesehatan anak yang mungkin saja sebelumnya mempunyai ganguan pada memori ingatannya, selanjutnya bagaimana tumbuh kembang anak mulai dari bayi hingga usia sekolah.

Kembali lagi ke cerita saya  untuk melakukan diagnosa gangguan  ini bukan hanya melibatkan naka saja tapi juga beserta orangtua mereka, diawal sejak membuat janji untuk bertemu psikolog sudah dingatkan untuk serta membawa orangtua mereka.

Pukul 9 pagi saya sudah sampai di tempat, terlebih dahulu masing-masing anak harus mengisi biodata mereka seperti nama, tanggal lahir, jumlah keluarga, nama ayah ibu dan ayah serta data-data lainnya. Setelah itu anak-anak masuk ruangan untuk menjalani serangkaian tes dan saya menunggu diluar.

Hampir empat jam juga saya menunggu dan akhirnya selesai juga, eittt sabar ya postingan selanjutnya saya akan menulis penjelasan psikolog tentang disleksia ini dan tentunya saya juga banyak mendapat ilmu dari penjelasan tersebut.
17 replies
  1. Mimi Affandi
    Mimi Affandi says:

    Saya pernah mengalami anak disleksia dengan down syndrome. Semangat sekolahnya luar biasa meskipun di sulit membaca dan menulis. Kelahiran 1998 tapi sampai sekarang tak juga lulus SD.

    Reply
  2. Diah Siregar
    Diah Siregar says:

    Eross (Pencipta lagu dan gitaris Sheila On 7) juga menderita disleksia, tapi jago banget maen gitar dan nyiptain lagu-lagu hits 🙂

    dulu waktu sekolah ada teman saya yang bacanya lompat-lompat, kami selalu mentertawakannya. sudah besar saya baru tau kalau itu ternyata disleksia.

    Reply
  3. nova violita
    nova violita says:

    informatif banget mak…. kadang kita tak menyadari itu sebuah disleksia ya…? kita hanya mengira itu sebuah proses aja…mis nya menulis huruf ke balik itu…
    nyatanya itu sebuah masalah serius..ditunggu kelanjutannnya…

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *