Untuk Cinta Yang tak Terucap

Pesan tadi pagi yang masuk ke ponsel mengingatkan saya bahwa hari ini adalah “Hari Ayah”. Sebuah pesan yang ternyata berisikan bonus daftar paket ngobrol murah hanya Rp 2000 untuk 60 menit, diakhir isi pesan itu tertulis
promo menyambut hari ayah, oh teryata hari ini adalah hari ayah dan saya benar-benar sama sekali tidak ingat.

Bercerita tentang sosok ayah memang saya jarang sekali menuliskan ceritanya di blog ini, namun sosok ayah bagi saya sangat berarti sama seperti ibu, walaupun ayah bukan seperti ayah-ayah lainnya yang bisa menunjukan rasa sayang lewat kata ataupun sekedar memberikan kejutan kecil kepada kami anak-anaknya.

Ayah sosok yang keras, saat berbicara pun suaranya selalu dengan nada tinggi, bagi yang tidak mengenal ayah
mungkin akan mengira saat beliau berbicara ayah sedang marah, ya memang seperti itu intonasinya yang tinggi saat berbicara dengan siapa pun.

Ayah, dengan segala cerita yang pernah terlalui dan rasa cinta yang tak pernah terungkap dengan kata, setiap
tatapannya menyimpan harapan serta do’a yang tak henti-hentinya. Kini disaat usianya kian bertambah tatapan matanya masih sama mengisyaratkan rasa sayang kepada kami anak-anaknya, entahlah selalu ada rasa haru menyesakkan saat menatap wajah ayah, teringat kembali bagaimana perjuangan ayah menyekolahkan
kami, walaupun pendidikan ayah hanya sampai SMP namun ayah selalu ingin anak-anaknya bisa menjadi orang sukses.

Teringat cerita dulu ketika saya masih duduk di bangku kuliah, saat itu merupakan masa-masa yang sulit bagi keluarga kami dan saya ingin sekali bisa seperti teman-teman lainnya kuliah keluar negeri, ya tapi itulah hidup ayah
selalu mengajarkan untuk bersyukur terhadap apa yang didapat,dimana pun tempat saya kuliah yang penting kesungguhan dan terus belajar menjadi hal terpenting.

Walaupun kata-katanya tidak lembut dalam memberi nasehat, intonasi bicaranyayang tinggi namun ayah selalu meyakinkan saya bahwa hidup ini memang keras dan kita harus kuat menjalaninya.

Dulu Saat awal kuliah S2 di sebuah PTN di Aceh saya mengerjakan tugas-tugas kuliah masih ke rental atau sekedar meminjam komputer teman sekamar di kosan, sebenarnya saat itu ingin sekali saya memberitahu ayah jika saya butuh laptop untuk keperluan kuliah.

Setiap melihat wajah ayah saya selalu saja tidak tega, sejak itulah saya mulai menabung dari hasil mengajar di sekolah, menjadi asisten dosen hingga mengajar private walaupun hasilnya tak seberapa. Sekian lama menabung
keinginan itu belum terwujud juga dan saya belum juga berani mengutarakan keinginan itu pada ayah, entah mungkin bagi saya barang itu terlalu mahal.

Saya yakin Selalu ada kontak batin antara anak dan orangtua dan itu terbukti suatu hari ibu menelpon memberitahukan bahwa ayah mengirim uang dengan jumlah yang besar untuk saya, betapa kagetnya saya, lalu menanyakan untuk apa uang sebanyak itu, ibu hanya menjawab “ Pergunakan untuk keperluan kamu kuliah, atau beli apa yang kamu butuhkan untuk kuliahmu”.

Jawaban ibu diseberang sana membuat saya terharu, apakah diam-diam ayah tau keinginan saya dan saya lagi-lagi yakin ayah tidak pernah menunjukkan rasa saya dengan ucapannya.

Ya, itu hanya sebagian cerita yang terlalui bersama ayah walaupun potongan-potongan cerita masa kecil
tidak begitu saya ingat namun saya yakin selalu selalu ada kenangan indah yang terlalui.

Untuk Ayah, terima kasih atas segala kasih sayang yang tak terucap, segala pengorbanan yang tidak terbalas
atas nasehat yang begitu lekat, atas pelajaran hidup yang begitu keras. Tanpa hari ini bagi saya semua hari adalah hari ayah.

4 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *