Dipantaskan dan Memantaskan

Lelah dan penat juga untuk melalui hari-hari yang penuh dengan aktifitas secara non stop dari mulai pagi hingga menjelang malam, bahkan kalau pekerjaan sudah menumpuk dengan deadline yang mepet sering sampai terbawa mimpi loh.

Kalau sudah begitu yang diinginkan adalah segera membereskan dan cepat melaluinya, pingin rasanya bisa liburan sambil nyantai di pantai tanpa mikirin pekerjaan yang melelahkan, eits tapi ini sudah pertangahan bulan dan kantong sudah menipis hihi, sabar aja menunggu yang akan mencair moga-moga cukup untuk minum segelas es cendol di alun-alun kota.

Untuk sekedar melepas kelelahan tersebut kadang-kadang saya menyempatkan diri untuk browsing atau menjelajahi internet, lumayan lah bisa refreshing sejenak untuk menikmati hiburan atau sekedar membuka window shopping melihat pakaian dan lain-lain, dan disamping itu saya juga bisa mendapatkan banyak informasi berbagai hal supaya kekinian alias tidak ketinggalan jaman.

Untuk yang sering mengikuti perkembangan berita pasti sudah tahu tentang skandal rekaman atau sadapan mantan ketua sebuah lembaga terhormat di negeri ini, yang diduga telah melakukan sebuah pelanggaran etika dengan melakukan pembicaraan atau lobi-lobi dengan mitra kerja yang menjurus kepada KKN.

Rasanya mual juga melihat berbagai media terlalu sering menyiarkannya karena seperti yang diketahui bersama hasilnya hanya sebuah drama atau lelucon belaka, sekumpulan orang berjubah yang menamakan diri sebagai hakim mahkamah kehormatan lembaga malah menutup sidang tanpa sebuah keputusan atau vonis.

Aneh bukan, padahal setelah para hakim tersebut membacakan pandangan masing-masing seharusnya vonis dijatuhkan agar ada kejelasan dan tidak menjadi sekedar rumor atau fitnah. Tapi apa boleh buat politik itu penuh intrik, kepalsuan dan kebohongan jadi sudah menjadi sesuatu yang wajar buat bagi para pelakunya.

Karena tidak punya jubah dan bukan termasuk hakim maka saya tidak akan mengadili atau memberi vonis melalui tulisan ini, karena sebenarnya dari kejadian tersebut saya hanya ingin mengambil salah satu yang bisa dijadikan nilai positif, ya setidaknya sebagai pengingat bagi saya sendiri.

Dipantaskan dan memantaskan, dua kata yang sangat berkaitan dan erat hubungannya dengan kehidupan, dan salah satu kaitannya adalah dengan rasa syukur dan mensyukuri sebagai tanda rasa terimakasih manusia kepada Tuhan yang sudah memberikan kehidupan dan rizki yang berlimpah.

Untuk masalah syukur mensyukuri sebenarnya sudah bisa dipastikan hampir semua orang yang beragama mengetahui hal tersebut, boleh jadi kata “Alhamdulillah” tidak pernah terlupakan ketika mendapatkan sesuatu tetapi apakah esensinya sudah dipertanggungjawabkan kedalam bentuk yang lebih nyata?

Contoh rillnya yang sering dijumpai dalam keseharian sering terlihat anak kecil yang belum cukup umur dibiarkan mengunakan kendaraan bermotor atau menenteng-nenteng gadget tanpa pengawasan, secara logika orang tua mereka sudah “dipantaskan” oleh Tuhan dengan jalan mempunyai rizki yang cukup untuk membeli sesuatu, tetapi mereka belum “memantaskan” diri karena tidak mempergunakannya secara tepat guna.

Dalam kaitannya dengan hal ini bisa dilihat bahwa teori dipantaskan dan memantaskan bisa dijadikan alat atau cermin untuk menilai seberapa besar rasa syukur atas pemberian Tuhan kepada kita, karena seperti apa ustadz bilang apapun bentuknya pemberian itu hanyalah sebuah titipan dan amanat dari Tuhan bukan milik kita seutuhnya, oleh karena itu harus dapat dipertanggungjawabkan.

Nah bagaimana dengan kamu setelah dipantaskan apakah sudah memantaskan diri atau sebaliknya sudahkan memantaskan dirikah sebelum dipantaskan memiliki sesuatu. Apapun bentuknya dapat dimulai dari keseharian seperti melakukan pekerjaaan sebaik-baiknya, merawat benda dan menggunakannya secara maksimal sampai mengamalkan ilmu yang dimiliki.

17 replies
    • Yudy Ananda
      Yudy Ananda says:

      tapi setidaknya nilai2 kearifan tadi bisa bersandar kepada norma-norma yang dianut baik oleh si pemilik kepala atau lingkungan dimana dia berada, contohnya agama dan budaya, jadi walaupun subjektif tidak akan terlalu abu2 dan melebar kesana kemari dalam menimbang sebuah kepantasan

      Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *