Balada Anak Pondok (1)

Kemarin  kakak si bungsu menelpon saya, seperti biasa pasti dia akan bertanya kapan saya akan menjenguknya di pondok pesantren, kebetulan sekali siangnya saya harus ke rumah teman yang searah dengan pondok tempat si kakak sekarang menuntut ilmu.

Sudah hampir enam bulan si kakak di pondok pesantren, bersekolah di pondok adalah keinginannya sendiri setelah sebelumnya saya sempat menawarkan beberapa sekolah yang tidak berasrama, awalnya saya ingin dia masuk SMA saja sekaligus saya punya teman yang menemani di kotrakan, tapi sepertinya memang dia sangat ingin merasakan menjadi anak pondok, akhirnya saya biarkan dia memilih untuk ikut tes masuk di pondok tentunya dengan perjanjian tidak boleh cengeng ataupun tidak betah, apalagi sampai dia minta pindah ke sekolah lain.

Deal dan dia setuju dengan persyaratan yang saya ajukan tersebut, soalnya untuk masuk sekolah di pondok tentunya membutuhkan banyak biaya, mulai dari membeli perlengkapan seperti kasur, lemari karena pondok hanya menyediakan ranjang.

Keperluan lainnya yang harus dibeli juga banyak dimulai dari perlengkapan sekolah, sampai baju yang dipakai si kakak juga dipersiapkan, untungnya ukuran badan dia dan saya tidak jauh beda bahkan nyaris tingginya melebihi saya jadilah beberapa potong gamis saya yang masih baru bisa dipakainya dan modelnya  itu juga cocok untuk anak seumuran si kakak, baju-baju itu sudah kekecilan padahal ada yang baru satu kali saya pakai.

Alhamdulillah pakaian dan kerudung tidak ada yang perlu dibeli, karena saya juga membiasakannya membeli gamis dan memakai kerudung sejak masuk SMP.

Bulan pertama di pondok jadwal wajib saya menjenguk satu minggu sekali,tepat di hari jum’at sekolah di pondok libur biasanya di hari itu wali santri akan menjenguk anaknya. Saya wajib datang menjenguk tentu saya dengan membawa makanan pesanan si kakak, berhubung kontrakan saya dekat dengan pondok kira-kira hanya sekitar 20 menit.

Ibu akan menjenguk si kakak satu bulan sekali, dan saya dapat jadwal menjenguk tiap minggunya dan membawa segala macam pesanan si kakak, alhamdulillah saat si kakak menuntut ilmu di pondok saya bisa mempunyai rejeki yang lebih, sehingga biaya sekolah si kakak menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.

Pondok pesantren tempat si kakak sekarang menuntut ilmu adalah pondok dimana tempat saya dulu menuntut ilmu, setiap berkunjung ke sana saya selau mengingat memori masa dulu, dimana rasanya setiap sudut menyimpan cerita, cuma bedanya saya masuk pondok setelah menamatkan SD sedangkan si kakak melanjutkan tingkat SMA di pondok. Ibu karena tidak tega awalnya tidak menyetujui saya masuk pondok, beliau beralasan masih kecil ndak tega jauh-jauh dari ibu, ditambah lagi saya suka sakit.

Masa itu tahun 1996 saya ingat sekali hidup di pondok tidak semudah dan senyaman seperti keadaan pondok sekarang, dulu air di pondok itu warnanya kuning, sedikit berminyak bahkan kami harus sabar menyaring air kuning itu dengan saringan air sederhana, setiap akan ujian biasanya air sulit didapat dan kami harus rela mengangkat air dari sumur besar peninggalan belanda yang ada di belakang asrama.

Pukul empat pagi kami harus bangun, terkadang saat salat subuh mata masih mengantuk, bahkan ada yang tertidur sambil salat, selesai salat subuh biasa membaca Al-qur’an lagi-lagi banyak yang tertidur bahkan karena ngantuk kami dihukum harus berdiri.

Pukul tujuh pagi kami mengantri sarapan pagi di dapur dan kami menyebutnya dapur umum. Antriannya panjang jangan membayangkan menunya wah, menunya sangat sederhana tapi jujur saya kangen dengan ikan asin sambal ijonya, bahkan ada  yang setelah menikah dan hamil kemudian ngidam sambal ijo khas dapur umum.

Khas lainnya dari dapur umum itu sambal dengan minyak jelatahnya, kalau sambal ini memang selalu tersedia setiap jam makan, rasanya pasti enak bagi anak pondok saat itu.

Asrama tempat si kakak tinggal sekarang juga asrama saya dulu, bedanya dulu baru selesai lantai satunya saja, kalau itu foto diatas itu pas didekat bangku itu dulu ada pohon cery, pohon yang masa itu sangat mengerikan tepatnya ada penghuninya jadilah pemandangan orang kesurupan setiap harinya sudah biasa bagi saya, mulai dari jin yang nenek-nenek hingga anak-anak.

Sekarang pohon itu sudah tidak ada lagi, dan sekarang sudah ada bangku tempat duduk dan dipintu masuk ada gerbang kecil. Dulu dan sekarang jauh berbeda setelah berlalu masa saya selesai dari pondok tahun 2002 dan sekarang 2016 tidak terasa sudah 14 tahun saya meninggalkan pondok dan sekarang saya rajin berkunjung ke tempat ini lagi, tempat dimana ustad dan ustazah mengajarkan banyak ilmu kepada saya.

Semoga si kakak betah sampai selesai, oya si kakak ini adik saya yang nomor lima hehe, maklum kami keluarga besar dan saya anak pertama. Cukup dulu ceritanya nanti ada cerita-cerita anak pondok yang lainnya.

15 replies
  1. Aireni Biroe
    Aireni Biroe says:

    Wuaaah..saya kebalikannya si kakak,,, dulu tamat SD ditawarin masuk pondok sama ortu tapi milih sekolah umum, laah pas kuliah teman2 malah banyak yang dari pondok, jadinya suka jadi pendengar saja kalau mereka cerita pengalaman di pondoknya 😀

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *