Budaya Sensor Mandiri dan Nilai-nilai Kearifan Lokal

Peran Lembaga Sensor Film

Sebagai bagian dari media komunikasi, film mempunyai keunikan tersendiri, salah satunya adalah kemampuan untuk merefleksikan realitas yang ada di tengah kehidupan masyarakat kita, bahkan film juga dapat membentuk atau menciptakan realitas yang benar-benar baru untuk siapapun yang menontonnya.

Untuk membuktikannya silahkan coba untuk kembali ke 10-20 tahun kebelakang dan bandingkan dengan keadaan saat ini. Jika dicermati maka kita akan menemukan banyak pergeseran nilai-nilai yang terjadi di tengah masyarakat, hal yang dulu tabu sekarang sudah menjadi hal yang biasa dan lumrah.

Percaya atau tidak film adalah salah satu media yang berada dibalik perubahan tersebut…

Dengan mempertimbangkan kepentingannya dalam berbagai hal maka keberadaan lembaga yang mengawasi dan mengatur kebijakan yang terkait dengan film akan sangat dibutuhkan, untungnya  kita memiliki LSF (Lembaga Sensor Film) yaitu lembaga yang mengontrol peredaran dan penayangan film, sehingga masyarakat diberikan jaminan atas kelayakan tontonan yang beredar.

Namun meskipun begitu kita tidak dapat sepenuhnya berpangku tangan dan menyerahkan semua tanggung jawab terhadap LSF, mau tahu kenapa?

Ada kalanya peraturan, kebijakan  dan hukum terkait perfilman mempunyai keterbatasan, apalagi jika melihat perkembangan dinamis yang terjadi dalam masyarakat seperti:

  • Teknologi. Kemajuan teknologi informasi yang kian pesat membuat film dapat dengan mudah diakses dari berbagai media seperti internet, tv berlangganan dll, namun di sisi lain teknologi membuat semakin banyak celah yang belum dapat terjangkau atau dipayungi oleh peraturan.
  • Keberagaman Masyarakat. Di tengah masyarakat dengan latar belakang agama, ras,suku dan budaya yang berbeda membuat kesulitan tersendiri untuk membuat keputusan-keputusan yang dapat memuaskan semua pihak secara bersamaan.

Hal-hal di atas memunculkan masalah-masalah baru seperti pro kontra juga semakin tergerusnya muatan lokal dengan muatan baru yang sebenarnya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut. Akibatnya bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari seperti kegaduhan di tengah masyarakat, maraknya kejahatan seperti pemerkosaan dan lainnya.

Budaya Sensor Mandiri dalam Keluarga

Sebagai lembaga terkait yang bertanggung jawab atas kebijakan seputar perfilman LSF menyadari betul akan pentingnya menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk dapat ikut aktif berperan serta dalam hal pengawasan juga kontrol.

LSF melalui jargon budaya sensor mandiri yang sedang dikampanyekannya saat ini, ingin mengajak masyarakat untuk dapat lebih bijak dan dewasa untuk memilah-milah layak atau tidaknya sebuah tontonan.

Ada beberapa catatan penting yang dapat kita praktekan untuk membudayakan sensor secara mandiri yang diantaranya adalah:

  • Kontrol. Jangan biarkan angota keluarga yang masih dibawah umur memiliki akses penuh terhadap akses masuk tayangan-tayangan film seperti televisi dan internet, dan pastikan setiap individu dalam keluarga mendapatkan tontonan yang pas dan layak.
  • Pengawasan dan Bimbingan. Kadang rating sebuah film tidak menjamin kelayakan sebuah tontonan apalagi setiap keluarga menganut nilai-nilai yang berbeda. Pendampingan dan bimbingan dari anggota keluarga yang lebih dewasa adalah salah satu kunci penting, dimana anggota keluarga yang lebih muda hanya akan mengadopsi muatan yang baik dari sebuah tayangan.

Pada hakikatnya membudayakan sensor secara mandiri adalah benteng terakhir dalam sebuah keluarga untuk menyaring pengaruh-pengaruh buruk yang terbawa dari tayangan film dan secara bersamaan kearifan lokal dan nilai-nilai positif dalam tatanan yang lebih luas yaitu masyarakat akan tetap terpelihara dan terjaga.

18 replies
  1. April Hamsa
    April Hamsa says:

    Iya mbak, yang paling bisa kita lakukan ya sensor dari keluarga sendiri nampaknya ya. Juga kalau anaknya udah sekolah atau berkomunitas, bisa ngajakin kerja sama mereka jg…

    Reply
    • meutia
      meutia says:

      yang terdekat adalah keluarga yang bisa membentengi dan menjaga anak2 dari hal-hal buruk terhadapa apa yang ditontonnya, terlebih orangtua harus selalu mendampingi

      Reply
  2. nova
    nova says:

    bener mba… kita harus pintar memilih film yang tepat buat ditonton keluarga, soalnya film yang lulus lsf..masih ada adegan dewasa yng gak baik ditonton anak kecil

    Reply
    • meutia
      meutia says:

      hai mba Nova, sebaiknya gunakan rating/peringkat film sebagai salah satu parameter kelayakan film berdasarkan umur, berikut rating film versi LSF

      SU (Semua Umur)
      A (Anak-anak 3-12 tahun)
      BO-A (Bimbingan Orangtua Dan Anak-anak)
      BO (Bimbingan Orangtua untuk anak dibawah 13 tahun)
      BO-SU (Bimbingan Orangtua Dan Semua Umur)
      R (Remaja 13-16 tahun):
      13+ – Film khusus diperuntukkan bagi penonton 13 tahun ke atas saja
      D (Dewasa):
      Kategori dewasa pun masih dibagi lagi menjadi dua kategori yakni:
      17+ – Film yang diperuntukkan bagi penonton 17 tahun ke atas saja
      21+ – Film yang diperuntukkan bagi penonton 21 tahun ke atas saja

      Kemungkinan besar film yang mba maksud memang mempunyai rating untuk orang dewasa…

      Reply
  3. Lidha Maul
    Lidha Maul says:

    Kami nggak punya TV di rumah, kalau pun punya kami sepakat membatasi channel nya
    Tapi, saat ini udah ada internet dan rasanya udah cukup karena kami bisa memilih apa yang mau ditayangkan

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *