Mengejar Produktivitas Kerja Dengan ASUS VivoBook Flip
2018-09-02 11:16:44 +0700 +07

Akhirnya mata ini menyerah juga setelah beberapa jam menahan kantuk demi mengumpulkan teori untuk penelitian yang sedang Saya kerjakan bersama beberapa rekan kerja di kampus. “Mungkin kalau dikerjakan subuh nanti bisa lebih fresh”, gumam Saya dalam hati sambil mematikan laptop dan bergegas ke peraduan untuk merebahkan tubuh.

Tebakan Saya ternyata benar. Pagi harinya semangat 45 untuk menyelesaikan penelitian tersebut kembali berkobar. Tanpa pikir panjang setelah menunaikan solat subuh langsung saja Saya hidupkan laptop.

“Loh kok tidak mau menyala ya?” Euforia dan semangat yang tadinya menggelora tiba-tiba menghilang setelah mengetahui hal tersebut.

Jujur saja hal ini membuat Saya ingin berteriak. Bagaimana tidak panik, akhir tahun seperti saat ini tuntutan kerja seakan berdatangan secara serempak, eh laptop malah rusak.

Laptop Rusak di Tengah Deadline?

Untuk sejenak Saya tertegun memandangi layar tanpa gambar sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada laptop yang sudah setia menemani selama beberapa tahun ini.

Apa mungkin karena baterai? ah tapi sebelumnya masih normal-normal saja, pun dengan charger yang tampilan fisiknya masih tampak baik-baik saja. Karena tidak ingin mengambil resiko dan membuat pekerjaan terbengkalai terlalu lama maka siang harinya Saya langsung membawa laptop tersebut ke service center terdekat untuk dicek.

Inginnya sih bisa mendapatkan informasi saat itu juga, tapi apa boleh buat tampaknya untuk sementara waktu ini Saya harus menunggu karena mereka harus melakukan pengecekan secara menyeluruh untuk memastikan kerusakan yang terjadi.

Singkat cerita pada sorenya saya mendapatkan panggilan telepon dari petugas service center tadi. Susah untuk menggambarkan perasaan Saya pada saat itu, yang pasti di awal-awal obrolan Kami hati dan pikiran ini dihantui cemas, khawatir jika ada kerusakan yang parah.

Tahu sendiri kan kalau laptop mengalami kerusakan pada komponen tertentu (semisal mainboard) mau tidak mau Kita harus mengeluarkan uang yang besar untuk memperbaikinya, bahkan bisa jadi harus menggantinya dengan yang baru.

Untungnya kekhawatiran tersebut tidak menjadi kenyataan, malah membuat sedikit lega karena diakhir pembicaran tersebut sang petugas service mengkonfirmasi bahwa laptop bisa diambil esok hari jika Saya menyetujui laptop untuk diperbaiki.

Nah, coba tebak apa yang rusak? ternyata hanya kerusakan kecil pada port pengisian dayanya saja, dan biaya yang harus saya keluarkan pun relatif sangat murah untuk ukuran laptop. Kalau tidak salah totalnya sekitar 300 ribuan dan itupun sudah termasuk ongkos reparasi. Murah bukan?

Dari Dulu Laptopku Memang ASUS

produk ASUS pilihanku

Cerita diatas adalah pengalaman yang Saya alami 3 hari lalu tepat sebelum postingan ini dibuat, dan alhamdulillah saat ini laptopnya sudah bisa berfungsi normal seperti biasanya. Kerjaan tidak terbengkalai dan aktifitas kerja berjalan lancar kembali.

Melihat dari kejadian rusaknya sih memang bukan hal yang menggembirakan tapi tahu enggak kalau sebenarnya Saya terbilang beruntung punya laptop ASUS yang satu ini.

Loh kok beruntung sih, kan jelas-jelas sudah mengalami kerusakan?

Perlu diketahui bahwa daya tahan atau masa masa aktif sebuah laptop akan tergantung dari hardware dan pemakaiannya, dan dari beberapa sumber yang Saya dapatkan menyebutkan bahwa laptop dengan range harga di bawah 5-7 jutaan rata-rata hanya bisa bertahan 3 sampai 4 tahun saja, dimana dalam periode tersebut kemungkinan besar harus menjalani beberapa perbaikan dikarenakan penurunan performa dan kerusakan pada komponen hardware.

Mungkin karena hal itulah mayoritas perusahaan menentukan penyusutan atau depresiasi aset elektronik mereka setiap 3-5 tahunan.

Dalam kasus ini laptop ASUS X200MA yang Saya miliki sejak 1 Januari 2015 tersebut dalam kondisi:

  • Performa masih bagus, dalam artian masih mampu untuk mengerjakan aktifitas komputasi secara normal dan masih mampu mengimbangi teknologi terkini.
  • Kondisi layar normal, hard disk normal juga, sedangkan baterai hanya mengalami penurunan daya tahan (masih bisa digunakan 2 jam tanpa charge)
  • Port yang rusak sudah diganti menggunakan spare part original tanpa harus menunggu lama.

Wajar dong kalau ada kerusakan sedikit setelah dipakai selama 3 tahun, 8 bulan dan 3 hari. Jika setiap harinya 2 kali mengisi daya artinya si port mengalami kerusakan setelah 2.684 copot pasang charger, itupun bisa jadi dikarenakan kebiasaan Saya yang grasak-grusuk ketika menggunakannya.

Tandanya seluruh produk ASUS sudah melewati proses quality control yang bagus. Kalau bukan ASUS belum tentu bisa setahan ini. Pada akhirnya Saya mengambil kesimpulan bahwa kejadian kemarin bisa dibilang normal bahkan luar biasa.

…Intinya selama ini Saya tidak menyesal setelah menggunakan produk-produk ASUS

2018 Ganti Laptop?

Walaupun aktifitas Saya sudah berjalan lancar ternyata ada hal lain yang masih mengganjal di pikiran Saya, yaitu keinginan untuk memiliki laptop baru yang lebih memadai.

Beli baru? Hmmm yang baca tulisan ini bertanya-tanya, sekelas dosen memang seberat apa sih kerjaannya. Kalau yang sekarang masih bisa digunakan kenapa harus ganti baru, ya kan?

produk ASUS pilihanku

Betul juga sih, daily task dosen memang tidak membutuhkan aktifitas komputasi yang berat, paling-paling ya bikin dokumen dan spreadsheet, tapi bagaimana dengan pekerjaan yang lain, misalnya ketika mengedit video untuk tugas terjemahan mahasiswa dan side job membuat aplikasi web berikut pendukungnya.

Kalau semua itu dilakukan dengan laptop yang sekarang ini ya lumayan keteteran juga. Coba deh bayangkan laptop yang umurnya hampir 4 tahun harus menjalankan video editor, illustrator, inkscape dan IDE.

Memang masih doable tapi tentu tidak akan seproduktif dan semulus ketika menggunakan laptop baru dengan teknologi yang lebih memadai.

Adapun alasan terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah keinginan untuk mewariskan laptop ini kepada adik Saya yang baru saja masuk bangku perkuliahan.

Yang jadi pertanyaan mau ganti laptop apa, uangnya sudah ada belum?

Nah, itu dia masalahnya… Untuk saat ini sih sepertinya memang belum memungkinkan untuk membeli laptop baru, tapi kalau ditanya yang dilirik sih sudah ada. 😅 Boleh dong kalau ngeceng-ngeceng sedikit.

Lebih Produktif Dengan ASUS VivoBook Flip TP410

ASUS VivoBook Flip TP410

Cukup dengan melihat heading di atas saja pasti pembaca sudah menebak bahwa laptop yang jadi wishlist Saya saat ini adalah ASUS VivoBook Flip TP410.

ASUS lagi ASUS lagi, memangnya tidak bosan apa?

Duh, bagaimana ya… Selain merasa sudah klop tentu saja Saya punya pertimbangan dan alasan logis, salah satunya adalah dari pengalaman Saya selama menggunakan produk ASUS, mulai dari smartphone hingga laptop.

Pun dengan alasan untuk memilih VivoBook Flip TP410 sebagai pengganti laptop lama. Nah, supaya tidak penasaran yuk cari tahu apa yang membuat Saya kepincut untuk memiliki varian VivoBook yang satu ini. Siapa tahu cocok juga dengan kebutuhan komputasi Kamu.

# Tipis, Ringan dan Stylish

Bukan laptop kekinian namanya kalau tidak punya tampilan estetis dan kompak. Laptop berpanel 14 inci ini beratnya sekitar 1.6 kg dengan ketebalan 19.22 mm. Dengan profil seperti itu tentu saja Kita bisa memastikan seberapa jauh portabilitasnya.

tipis ringan dan stylish

Untuk soal tampilan sepertinya tidak perlu diragukan lagi. Balutan alumunium di seluruh badan ASUS VivoBook Flip TP410 membuat laptop yang satu ini terlihat stylish dan kesan yang elegan.

Jadi sudah fix bahwa ASUS VivoBook Flip TP410 masuk dalam kriteria portable, kompak dan stylish…

Bagi Saya sih ketiganya adalah kriteria penting yang wajib dimiliki oleh sebuah laptop karena pekerjaan yang dilakukan membuat Saya sering berpindah tempat, misalnya ketika berganti-ganti (ruangan dan gedung) kelas mengajar.

# Nano Edge Display

Di sisi lain ukuran yang mungil dapat membantu mobilitas tapi dalam hal tertentu kadang bisa jadi dilema tersendiri, dalam hal ini adalah implikasinya terhadap ukuran layar.

nano endge display

Nah, ASUS VivoBook Flip TP410 terbilang sangat unik. Berkat bingkai super tipis yang ukurannya hanya 8 mm, ASUS berhasil membenamkan panel Full HD berukuran 14 inci ke dalam laptop berukuran 13 inci. Artinya Kita bisa mendapatkan panel yang luas dalam laptop yang berukuran kompak.

Hal lain yang tidak kalah menarik dari adalah teknologi wide-view 178° yang memungkinkan warna layar memiiki kontras yang sama dari berbagai angle.

Dalam aktifitas yang berhubungan dengan grafis ukuran dan kontras layar tentu akan sangat berpengaruh, misalnya ketika menggambar ilustrasi untuk konten web maupun berbagi konten ketika presentasi.

# Layar Sentuh

Terus terang saja selama ini Saya belum pernah punya pengalaman dengan laptop yang berlayar sentuh, tapi teknologi Touch Screen yang dimiliki ASUS VivoBook Flip bisa jadi menambah produktivitas dalam berkarya.

touch screen

Seluruh aktifitas komputasi bisa dilakukan dengan cara menyentuh layar seperti layaknya yang Kita lakukan terhadap smartphone. Seluruh permukaan layar ViVoBook Flip TP410 dilengkapi dengan sensor sentuh dengan tingkat presisi yang tinggi, dan mampu mendeteksi sentuhan yang sangat halus.

Nah, kalau bicara soal produktivitas nih ternyata ada sebuah aksesoris tambahan yang wajib dimiliki ketika menggunakan laptop yang satu ini, yaitu ASUS Pen. Sebuah pena digital yang mampu mendeteksi tekanan dari 10 g hingga 300 g.

Bagi pembaca yang punya aktifitas dan minat terhadap hal-hal yang berbau grafis tentu bisa membayangkan rasanya menggambar langsung di layar laptop Touch Screen, ASUS Pen, Windows 10 ditambah aplikasi grafis semacam SketchBook Pro.

# 4 Display Mode

display mode

Apa yang ada dipikiran Kamu ketika mendengar kata flip pada sebuah laptop? Ya, tepat sekali yaitu fungsi khusus yang memungkinkan layar diputar melebihi kemampuan laptop pada umumnya.

Bukan hanya 2 atau 3, Dengan kemampuan berputar hingga 360° maka ASUS VivoBook Flip TP410 bisa ditampilkan dalam 4 mode yang berbeda yaitu:

  • Media Stand, mode yang cocok digunakan untuk aktifitas seperti memutar film dan multimedia.
  • Laptop, mode normal dimana Kita bisa menggunakan VivoBook TP410 selayaknya sebuah laptop kerja.
  • Tablet, mode dimana laptop ini berfungsi layaknya seperti sebuah tablet dimana Kita bisa menggunakan teknologi Touch Screen lebih maksimal
  • Shared Viewer, mode yang cocok digunakan ketika berbagi konten dengan rekan kerja atau kolega, misalnya ketika melakukan presentasi.

Soal ketahanan tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena dalam hal quality control ASUS sudah memastikan agar engsel yang ada pada laptop ini memiliki ketahanan 20 ribu kali buka tutup.

# Sensor Sidik Jari

finger print censor

Dalam hal orivasi dan keamanan VivoBook Flip TP410 dilengkapi dengan sensor sidik jari yang terintegrasi dengan sistem operasi Windows 10, artinya keamanan data terjamin tanpa proses login konvensional yang ribet.

Dengan adanya fitur ini tentu Kita tidak perlu was-was dan takut lagi harus meninggalkan laptop dalam kondisi tertentu.


Sum

ASUS VivoBook Flip TP410 tersedia dalam 3 tipe, dimana setiap tipenya memiliki perbedaan dalam hal teknologi prosesor, RAM dan space tempat penyimpanan, yaitu:

  • Intel Pentium i3-7100U/4GB RAM/500GB storage
  • Intel Pentium i3-7100U/4GB RAM/1TB storage
  • Intel Pentium i5-7200U/8GB RAM/1TB storage

Nah, ketiga pilihan di atas tadi tentu akan menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, apakah aktifitas komputasi yang dilakukan berat atau hanya melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja.

Bagi Saya pribadi memiliki laptop ASUS VivoBook Flip TP410 tentu akan membuat banyak perbedaan besar, khususnya dalam hal menambah kreatifitas dan produktivitas kerja. Bagimana dengan Kamu, apakah tetap menggunakan laptop yang sekarang atau punya rencana ganti dengan laptop yang satu ini?

Disclosure: ASUS Laptopku Blogging Competition by uniekkaswarganti.com

Lomba Blog ASUS Laptopku