Mendadak Sidang Tesis
2018-02-19 04:06:58 +0700 +07

Sebenarnya bukan mendadak sidang, karena bingung nentuin judul yang menarik untuk postingan ini akhirnya aku mengambil judul ini setelah membaca salah satu comment bloofers di bloof, mas fahrie aku ambil ya commentnya jadi judul postingan saya.

Jauh-jauh hari jadwal tesis saya sudah ditentukan. Jadwalnya hari minggu, tanggal 15 mei jam 11 siang waktu Sudan. ternyata sesudah melihat kalender tanggalnya bertepatan dengan hari kopdarnya bloofers bandung hiking dan hari miladnya salah satu bloofers dik aan sopiyan. Setelah mendapatkan jadwal sidang 2 hari kemudian saya menghadap pembimbing dan penguji untuk menyerahkan tesis.

Alhamdulillah, ketika menemui penguji ternyata beliau bisa hadir sesuai jadwal yang sudah ditentukan, begitu juga dengan pembimbing.

Hari demi hari saya lalui dengan rasa deg-degan bercampur bahagia, dan juga rasa takut (syndrome menjelang sidang). Akhirya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu segala persiapan dilakukan dengan teman-teman asrama, bangun subuh teman-teman sibuk membuat kue khas Indonesia ada donat, agar-agar, dan bakwan. Kue-kue ini akan akan disuguhkan untuk yang akan menghadiri acara sidang dan pembimbing dan penguji tesis, sekalian promosi makanan Indonesia juga.

Pukul 8 pagi menelpon Ibu dan Ayah untuk meminta doa agar sidangnya lancar, kemudian saya menelpon qefy dkk yang sedang hiking, setelah setengah jam puas ngobrol dengan bloofer Bandung yang sedang hiking sekaligus juga minta do’a dari mereka, aku bersiap-siap mandi.

Setengah jam setelah aku mandi salah seorang teman menelpon katanya ada info dari kampus kalau sidangku hari ini di batalkan karena salah satu anggota keluarga penguji tesisku meninggalkan, awalnya aku menyangka temanku hanya bercanda, tapi ternyata info itu memang benar adanya.

Selanjutnya langsung menelpon pembimbing, ternyata eh ternyata pembimbing saya mengatakan bahwa hari ini sidangnya dibatalkan karena berita mendadak, jadi diundurkan, lemas rasanya mendengar berita itu, di ujung telpon saya berkata kepadanya “ya ustaz jahiztu kullu ath’imah katsir.. (saya udah mempersiapkan banyak makanan dan kue-kue)” kemudian beliau menjawab “ma’laisy ya binti (maaf anakku), beritanya mendadak.

Karena sidang dibatalkan akhirnya saya dan teman-teman diasrama membagi-bagikan kue-keunya kepada teman-teman yang lain (kasian daripada mubazir) parsel buah-buahan juga udah dihias cantik tergeletak didekat pintu dan buah-buahan didalam parsel akhirnya kami makan bersama-sama (aksi kekecewaan hehehehe).

foto bersama salah satu pembimbing tesis

foto bersama salah satu pembimbing tesis

Tiga jam kemudian tepat pukul 12.30 tiba-tiba hp berdering, ternyata panggilan masuk dari sang pembimbing, beliau mengabarkan bahwa kita jadi sidang hari ini, sekarang saya dan penguji sudah di ruang sidang, sekarang kamu segera ke ruang sidang, antara kaget percaya dan tidak percaya saya langsung menjawab “iya saya akan segara ke ruang sidang”

Untungnya saya tinggal di asrama yang berdekatan dengan kampus, buru-buru saya mengabarkan kepada teman-teman, mereka juga kaget, lagi-lagi saya beruntung karena kue-kue dan buah-buahannya masih tersisa. Karena buru-buru akhirnya lupa pakai bedak dan hampir saja salah pakai kaus kaki.

Sepanjang jalan ke kampus aku berlari-lari, tiba-tiba pembimbing menelpon lagi, beliau menyuruh segera sampai di ruang sidang, sesammpainya di sana nafasku ngos-ngosan, pembimbing dan penguji menatapku iba dan beliau menyuruhku duduk sejenak untuk beristirahat.

Setelah beristirahat 5 menit sidang pun di mulai, sidang dibuka oleh pembimbing. Oya perkenalkan nama pembimbingnya, yaitu Prof. Dr. Abdurrahman Muhammad Ahmad Kadoek, beliau adalah dekan fakultas tarbiyah di international universitas Africa, beliau adalah pembimbing yang sangat teliti dalam pembimbing tesis, beliau juga sangat susah untuk memberi nilai tinggi kepada mahasiwa yang beliau uji tesisnya. Sedangkan penguji lainnya adalah Dr. Su’ad Abdurrahim Basyir beliau dosen di sudan open university.

Saya diberikan kesempatan 15 menit untuk memperkenalkan diri dan sedikit bercerita tentang Indonesia kemudian memaparkan isi tesis. Entah kekuatan dari mana tanpa ada rasa takut saya memaparkan isi tesis yang berjudul “daurul biiah lughawiyah fii ma’had Khartoum addauly fii tanmiyatil qudaarat thullab al indunisi al lughawiyah” dengan lancar.

Setelah memaparkan isi tesis, tiba saatnya penguji menanyakan pertanyaan dan mengoreksi kesalahan, satu persatu pertanyaan berhasil dijawab dengan lancar sesuai dengan pengetahuan yang saya miliki. Kkadang-kadang penguji tertawa karena aku dengan polosnya menjelaskan setiap masalah yang di hadapi mahasiswa Indonesia dalam belajar bahasa arab. Beliau memahami orang asing yang belajar bahasa arab pasti tidak akan dengan mudah menguasai bahasa arab secara keseluruhan dalam waktu singkat.

foto bersama kedua pembimbing tesis

foto bersama salah kedua pembimbing tesis

Tanpa terasa pertanyaan demi pertanyaan telah terjawab, kemudian pembimbingku menyuruh untuk keluar dari ruang sidang karena mereka akan mendiskusikan nilai yang akan diberikan. Jujur saja melihat pengalaman teman-teman yang juga pembimbingnya beliau mendapatkan nilai jayyid jiddan (baca:baik sekali), membuat aku yakin nilai yang aku dapatkan juga jayyid jiddan dan tidak berharap mendapatkan imtiyaz (baca:istimewa).

Lima menit kemudian beliau saya dipanggil untuk masuk kembali ke ruang sidang untuk mendengarkan nilai yang akan beliau bacakan, sebelum membacakan nilai, penguji dan pembimbing bertanya “kamu layak mendapatkan nilai berapa? 70, 80 atau 90, aku hanya diam tidak bisa menjawab, jawab saja berapapun kamu jawab tak akan mempengaruhi nilai yang telah kami putuskan, kemudian aku menjawab 70 karena banyak yang harus diperbaiki dan belum layak mendapatkan nilai tinggi, mereka menjawab “kesalahannya tidak banyak, hanya kesalahan pengetikan dan itu wajar” aku hanya tersenyum.

Kemudian pembimbingku langsung membaca hasil keputusan nilai yang mereka berikan untukku, pada akhir kalimat rasanya seperti mimpi ketika beliau membacakan bitaqdir imtiyaz (baca:nilai istimewa) karena kaget aku secara spontan saya bertanya “Wallahi imtiyaz ya ustad?” (baca:nilai istimewa ustad?), pembimbingku menjawab “mabruk (selamat) nilainya imtiyaz” rasanya bagai mimpi bahkan sampai hari ini.

Aku sangat terharu dan tidak menyangka bisa mendapatkan nilai imtiyaz, Alhamdulillah atas segala nikmat yang allah berikan hingga akhirnya saya bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu. Diluar ruangan teman-teman sudah menunggu untuk mengucapkan selamat.

Terima kasih banyak untuk teman-teman dan semua yang telah membantu dari awal sampai akhir tesis ini, yang selalu setia mendo’akan, jazakumullah khairal jazak, hanya allah yang bisa membalasnya semua, semoga ilmu yang telah saya dapat bermanfaat bagi semua amien ya rabb, bagi teman-temanku seperjuangan yang belum sidang semoga tesis kalian segera bisa disidangkan.