Ramadhan di Rantau
2018-02-20 17:05:30 +0700 +07

Tanpa terasa ramadhan sudah memasuki hari ke delapan, kangen rasanya ingin mengupdate blog lagi sambil mengenang saat ramadhan di rantau beberapa tahun yang lalu. Dua kali puasa dua kali lebaran terlewati di perantauan nun jauh di benua Afrikasana, namun ada nikmat yang tak tergantikkan, nikmat yang Allah berikan selau berbeda saat menginjakkan kaki di negara berbeda benua.

Banyak hal yang membuat hati ini ingin kembali merasakan ramadhan di sana, meskipun diawal ada rasa sedih dan haru karena harus melewati ramadhan tanpa keluarga, namun lagi-lagi nikmat ukhuwah meleburkan segala rasa.

Tidak ada penjual takjil yang berjejeran di sepanjang jalan, hal ini sangat berbeda ketika mengingat nuansa ramadhan di tanah air, tapi suasana sore menjelang berbuka begitu semarak, setiap mesjid menyediakan menu bukaan khas arab memang benar-benar menandakan bahwa ini adalah bulan penuh berkah, berkah bagi mahasiswa asing yang sedang menuntut ilmu di negara ini, bisa berbuka dengan makanan yang lezat yang tersedia di mesjid .

Tatkala sore merambah langit pemandangan yang luar biasa aku dapati di depan baqalah (mini market), para pemiliknya membentang tikar sambil menyiapkan menu untuk berbuka, ketika datang waktu berbuka maka mereka akan membagikan takjil kepada orang-orang yang masih dalam perjalanan , baik itu pejalan kaki ataupun pengendara mobil, suasana yang tidak aku dapati di negeri ini.

Sedangkan di sudut asrama sederhana para mahasiswa membentuk kelompok untuk menyiapkan menu untuk berbuka, setiap sore kami mengantri mengambil takjil di cafetaria. Takjil khas Arab campuran Afrika memang selalu memikat, walaupun terkadang kami mahasiswa Indonesia punya menu khas nusantara. Kurma, karkade, adas, mulah dan beberapa makanan lainnya menjadi menu berbuka yang begitu nikmat.

Suasana berbuka puasa

Benua Afrika dengan gurun yang membentang, hanya ada pilihan iklim panas dan sangat panas bagi negara ini, ramadhan tiba bertepatan dengan musim panas. Ya. melewati puasa pertama adalah perjuangan, bukan rasa lapar yang mendera namun dahaga begitu menyengat, ditambah waktu puasa yang panjang, musim panas siang akan lebih lama bila dibandingkan malam, otomatis waktu berpuasa pun menjadi bertambah panjang.

Subhanallah, niat dan tekad bisa mengalahkan hawa nafsu yang mendera. inilah nilai tambah berpuasa di negara yang beriklim panas.

Malam pun tiba, salat tarawih adalah moment indah yang tak lekang dalam ingatan. Menginjakkan kaki di rumah Allah, suara Imam mahasiswa asal Somalia menguncang batin, bacaan 1 juz setiap malamnya tak menggoyahkan kaki, betapa merdu membuat hati menangis.

10 akhir ramadhan kuliah pun diliburkan, para mahasiswa berbondong ber’itikaf di masjid-masjid, tilawah, tadabbur kalam ilahi hingga kajian fiqh senantiasa menghiasi hari-hari itu, berkumpul dengan saudara-saudara dari berbagai belahan dunia lain, mereka datang dari turki, Malaysia, Thailand, Somalia, China, Filiphina, Nigeria dan negara lainnya. Ya, kami sama-sama menjadi hamba Allah di tempat ini, ingin mereguk keberkahan dan pahala di bulan yang penuh ampunan ini.

Selalu ada cerita di setiap ramadhan, ramadhan di rantau bukan sekedar kisah biasa namun selalu ada hikmah yang Allah berikan meski raga sudah terpisah dengan jiwa-jiwa yang selalu menenami dua kali ramadhan. Begitu dashyat hingga hati meniatkan kembali ke benua yang sama namun berbeda negara, insyaallah biizmillah setelah mengenapkan setengah din.