Beradaptasi dengan Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi
2020-05-19 19:19:27 +0700 +07

Tidak ada yang menyangka dan benar-benar siap dalam menghadapi kemunculan virus yang saat ini telah teridentifikasi atau populer dengan sebutan covid19 ternyata menjelama menjadi pandemi di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Kenyataan tersebut membuat kita merubah pola hidup 180° secara mendadak, mulai dari interaksi sosial hingga kegiatan ekonomi. Dampaknya sudah bisa kita rasakan sendiri … Siapapun akan merasa tidak nyaman jika harus merubah kebiasaan secara tiba-tiba.

Bagaimana Kita Bertahan?

Bertahan dalam keadaan new normal adalah realita yang ada di depan kita saat ini. Di satu sisi ruang gerak harus dibatasi sementara di sisi lain kita harus tetap bisa menjalankan pekerjaan atau aktivitas lain yang sudah menjadi kebutuhan.

Memang cukup dilematis juga, tapi suka atau tidak kita harus mau menyikapi dan mencari jalan terbaik diantara keduanya yaitu beradaptasi dengan merubah cara lama dalam menjalani keseharian, setidaknya ya sampai ditemukan obat atau vaksin nanti.

Apakah kita mampu melakukannya? Seharusnya bisa, sayangnya ditengah keadaan seperti ini orang-orang cenderung untuk larut dalam kecemasan atau dengan kata lain dalam kondisi kesehatan mental yang tidak ideal.

Mental dan Fisik

Kesehatan mental yang tidak ideal biasanya disebabkan oleh depresi atau stress akibat banyaknya tekanan yang timbul. Logikanya mental yang terganggu malah membuat orang membahayakan diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Keadaan mental yang terganggu di sini bisa diartikan sebagai perilaku yang tidak sehat. Contohnya stres dan depresi yang bisa membuat sulit tidur, mudah marah, nafsu makan yang turun hingga keinginan mengkonsumsi minuman keras atau narkoba.

Ibnu Sina yang kita kenal sebagai “Bapak Kedokteran Modern” pun sudah memberi peringatan sejak jauh-jauh hari, bahwa kepanikan adalah separuh penyakit. Masuk akal bukan jika dikaitkan dengan keadaan saat ini.

Tidak hanya sampai disitu, kesehatan mental juga akan mempengaruhi setiap keputusan yang kita ambil. Semakin sehat tentu akan semakin baik dan sebaliknya. Jika terganggu maka kita cenderung akan mengambil tindakan yang tidak rasional.

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa pikiran atau mental yang kuat memberi pengaruh positif pada kebugaran fisik dan tentunya bisa mendorong kita untuk lebih bisa melihat potensi/keputusan terbaik sehingga segala sesuatunya bisa berjalan maksimal.

Tips Menjaga Mental di Saat Pandemi

Nah, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita menjaga kesehatan mental? Dengan banyaknya tekanan menjaga ‘kewarasan’ tentu tidak akan semudah membalikan tangan.

Kalau dicermati dengan baik sebenarnya ada beberapa cara yang relatif cukup mudah untuk mengatasi masalah ini, misalnya saja seperti:

  • Melakukan Kegiatan Positif
    Dengan beraktivitas maka pikiran kita akan terlatih untuk belajar menikmati tetap fokus dalam memecahkan sebuah masalah. Apakah itu beribadah, olahraga, aktivitas sosial atau kegiatan lain yang berhubungan dengan hobi, selama itu bersifat positif.

  • Komunikasi dengan Orang Terdekat
    Walaupun aktivitas kita menjadi terbatas bukan berarti harus menutup komunikasi dengan orang terdekat. Dengan berkomunikasi kita bisa menyalurkan kesedihan dan rasa cemas yang sebelumnya menjadi beban yang mengganggu pikiran.

  • Waktu Istirahat Tercukupi
    Selain tidak sehat Kekurangan istirahat bisa berdampak pada emosi yang labil dimana kita bisa lebih mudah marah untuk hal-hal yang tidak sepatutnya. Oleh karena itu sangat disarankan untuk menjaga jam tidur dan waktu istirahat kita agar tercukupi dengan baik.

Last but not least ada baiknya untuk membiasakan diri untuk berkonsultasi dengan ahlinya, yang dalam hal ini tentu saja dokter. Kabar baiknnya, bicara soal dokter kini banyak tersedia aplikasi yang memungkinkan kita tidak lagi perlu bertemu secara fisik, terlebih dalam keadaan seperti sekarang ini.

Salah satu yang saya sarankan adalah Halodoc karena aplikasi yang satu ini punya beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh layanan sejenisnya yaitu bisa diakses melalui desktop maupun aplikasi mobile dan tersedianya fitur voice dan video call untuk berkomunikasi dengan dokter.