Shell Eco-marathon Menjawab Tantangan Energi di Masa Depan
2018-04-24 13:09:12 +0700 +07

Apa yang terbesit dipikiran kamu ketika mendengar kata energi? iya, energi seperti bahan bakar minyak dan gas yang selama ini digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Sadar atau tidak ternyata ketergantungan kita sangat besar loh. Kalau tidak percaya silahkan saja buat daftar dari aktifitas yang biasa Kamu lakukan.

Listrik menggunakan BBM, pun dengan mesin yang menggerakan industri dan transportasi. Pada akhirnya kamu akan menemukan bahwa mulai dari matahari terbit hingga terbenam semua roda kehidupan kita ditopang oleh sumber energi.

Dari fakta tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa energi punya andil besar bagi peradaban manusia modern saat ini. Nah, yang jadi pertanyaan adalah apa kontribusi kita dalam mata rantai energi?

Tantangan dari Masa Depan

tantangan energi di masa depan

Sementara kita berleha-leha menghabiskan sumber energi, di suatu tempat sana ada orang-orang hebat yang bersinergi untuk menjawab tantangan yang dihadapi dunia saat ini.

Ya, betul sekali, kerusakan alam dan krisis energi…

Keduanya memang merupakan sisi kelam dari ketergantungan kita terhadap energi konvensional. Jujur saja saya sendiri tidak bisa membayangkan masa depan dunia jika tidak segera melakukan perubahan dan inovasi.

Jika terus berlanjut maka hanya tersisa skenario bagi dunia di masa depan, yaitu ozon akan terus menipis lalu udara akan dipenuhi oleh racun dan residu yang dihasilkan pembakaran. Sedangkan yang kedua adalah peradaban akan kembali ke jaman prasejarah karena habisnya sumber energi.

Jangan salah sangka dulu ya, kembali ke jaman sejarah itu bukanlah pergi ke masa lalu dengan mesin penjelajah waktu seperti yang dilakukan Marty dan Doc dalam film Back To The Future, melainkan meninggalkan kebiasaan yang dilakukan kita saat ini.

Berpergian naik kuda, lampu diganti obor, memasak menggunakan kayu bakar plus hal-hal lain yang diluar kebiasaan kita. Bisa-bisa generasi milenial pada nangis bombay tanpa henti.

Masa sih kita bisa krisis energi?

Katakan saja bahwa hipotesa yang menyatakan minyak bumi yang berasal dari materi fosil itu benar adanya, maka minyak yang selama ini dikuras pasti akan habis pada suatu saat nanti, masuk logika bukan?

Pun jika kita mengamini teori lain yang berlawanan, karena faktanya jika tidak segera melakukan eksporasi maka dalam 11 hingga 12 tahun kedepan cadangan minyak kita akan habis.

Disinilah orang-orang hebat yang saya sebutkan tadi mengambil peranan bagi keberlangsungan dunia dan energi di masa depan.

Ada yang melakukan eksplorasi, ada yang menciptakan energi terbarukan, atau fokus kepada inovasi teknologi agar sumber energi yang ada atau masih dalam tahap pengembangan dapat digunakan secara efisien dan ramah lingkungan.

Siapakah mereka?

Mereka berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, ada ilmuwan, engineer bahkan institusi atau organisasi yang memang perhatian kepada masalah energi, seperti yang selama ini dilakukan oleh Shell.

Shell Eco-Marathon, Make The Future dan Energi Masa Depan

Pasti sudah pada tahu tentang Shell bukan? perusahaan multinasional yang selama ini dikenal bergerak dalam bisnis retail pelumas, BBM, hingga sektor hulu ini ternyata punya perhatian besar loh terhadap isu energi.

We believe the answers to tomorrow’s energy challenges lie in the power of people’s ingenuity, and that together we can #makethefuture today ~ Shell

Shell percaya bahwa jawaban atas tantangan energi di masa depan akan tergantung pada kecerdasan orang, dan itu hanya bisa dicapai jika dilakukan secara bersama-sama.

Nah, salah satu bentuk nyata dari kepeduliannya Shell mengajak dunia untuk berkontribusi dalam isu energi melalui event tahunan mereka yang bertajuk Shell Eco-marathon.

1# Sejarah

Event ini bermula di tahun 1939 ketika para pegawai Shell bertaruh atas kendaraan mana yang mampu mencapai perjalanan terjauh dengan jumlah bahan bakar yang sama. Seiring bertambahnya waktu, event ini bertransformasi menjadi kompetisi otomotif berskala internasional.

Alih-alih hanya pamer tampilan atau saling adu kecepatan seperti yang umumnya dilakukan oleh event otomotif, Shell Eco-marathon lebih fokus untuk membuat perbedaan di masa depan, dimana peserta didorong untuk melakukan inovasi dalam membangun, mendesain kendaraan dengan mobilitas tinggi sekaligus efisiensi dalam penggunaan bahan bakar.

2# Shell Eco-marathon 2018

Di tahun ini Shell Eco-marathon digelar di tiga lokasi yang berbeda. Untuk Regional Asia di Singapura tanggal 8-11 Maret, Amerika 19-22 April di Sonoma California dan yang terakhir adalah Eropa yang akan berlangsung di London pada tanggal 5-8 Juli.

Adapun klasifikasi yang dilombakan kali ini adalah

  1. Kelas Prototype
    Kendaraan yang masuk ke dalam kategori ini terbilang punya bentuk ramping yang unik dan nyeleneh, karena yang menjadi acuan targetnya adalah aerodinamis, kecepatan dan efisiensi bahan bakar sebesar-besarnya.
  2. Kelas UrbanConcept
    Jika pada kelas sebelumnya menitik beratkan kepada efisiensi bahan bakar maka kelas Urbanconcept lebih fokus dalam hal desain mobil perkotaan yang minimalis dan praktis.

Kendaraan-kendaraan yang masuk klasifikasi diatas akan dibagi lagi berdasarkan jenis energi yang dugunakan.

  • Bahan bakar konvensional seperti bensin, solar juga bahan bakar cair yang terbuat dari gas alam dan ethanol.
  • Energi listrik yang ditenagai oleh sel berbahan bakar hidrogen dan baterai lithium.

Penasaran lihat aksi dan keseruan para peserta di track? yuk kepoin foto-foto dibawah ini

Seru, senang, dan bangga pastinya bisa berkontribusi secara langsung di ajang yang bisa membawa perubahan positif bagi isu global seperti yang dilakukan oleh teman-teman kita di ajang Shell Eco-marathon 2018, tidak terkecuali tim-tim dari Indonesia.

Loh memang ada tim yang berasal dari Indonesia? Ada dong… dan coba tebak apa yang diraih oleh tim-tim kita di ajang regional Singapura kemarin?

Yaaaaay tidak tanggung-tanggung, Indonesia berhasil mendominasi penghargaan mobil hemat energi yang masuk dalam kelas UrbanConcept.

Mereka adalah tim Semar Urban dari UGM, tim ITS Team 2 dari Institut Teknologi Sepuluh November dan Garuda UNY Eco Team dari Universitas Negeri Yogyakarta, sedangkan dalam kategori energi listrik posisi pertama berhasil disabet oleh Nogogeni ITS Team 1 yang disusul oleh Bumi Siliwangi Team 4 dari Universitas Pendidikan Indonesia pada posisi ke-3.

Kabar yang tidak kalah menggembirakan adalah mereka yang memenangkan penghargaan tersebut berhak untuk bersaing dengan peserta lain yang berasal dari Amerika dan Eropa pada acara puncak yang diadakan di London bulan Juli nanti.

Kontibusi Kita untuk Masa Depan Energi

Menyambung pertanyaan saya tadi tentang mata rantai energi sebenarnya bisa kita jadikan permulaan untuk pro aktif dan turut berkontribusi bagi masa depan energi.

Dalam hal ini ada 1001 cara yang dapat kita lakukan, diantaranya seperti yang dilakukan teman-teman kita yang menjadi bagian dari sejarah dunia dengan berpartisipasi dalam ajang Shell Eco-marathon 2018.

Bagaimana dengan orang awam seperti kita?

Tidak punya latar belakang keilmuan yang mencukupi bukan berarti bisa ongkang-ongkang kaki senaknya. Kita bisa ikut menjadi bagian dari masa depan mulai dari hal-hal yang sederhana, yaitu menghemat penggunaan energi.

Yuk kita sama-sama wujudkan masa depan dan memberi semangat teman-teman kita agar mereka membawa harum nama bangsa sepulang dari acara puncak Shell Eco-marathon di London nanti.

Let’s #makethefuture