Sudan at First Sight
2018-02-20 02:23:05 +0700 +07

Walaupun sudah berlalu namun aku ingin berbagi cerita, ketika baru pertama kali naik pesawat penerbangan luar negeri, menginjakkan kaki di Negeri Dua Nil adalah masa di mana waktu ingin aku putar kembali. Berusaha sambil berdo’a semoga akan ada kesempatan berikutnya menuju negara yang sama ataupun belahan dunia yang lainnya.

Tanggal 21 juli 2009, sekitar jam 5 subuh waktu sudan, pesawat yang aku tumpangi landing dengan selamat di bandara International Khartoum, Pertama kali menginjakkan kaki di negara ini hawa panas langsung menyambut kedatanganku, sebelumnya aku tak pernah membayangkan akan seperti ini, suasana Khartoum mengingatkanku akan Aceh setelah diterjang tsunami, gersang dan berdebu.

Sepanjang perjalanan menuju sekretariat KMA (Keluarga Mahasiswa Aceh) pemandangan yang terhampar tak begitu hijau hanya ada beberapa taman yang sengaja ditanam di dalamnya bunga-bunga yang beraneka ragam, sedikit agak menyejukkan mata.

Jujur saja sebelum berangkat ke negara ini aku memang sengaja tidak mencari tau lebih rinci, yang aku tau negara ini hanya punya musim panas dan sangat panas, dengan mayoritas penduduknya yang berkulit hitam.

Sepanjang jalan aku juga sempat kaget melihat pemandangan yang tak lazim, karena rasa penasaran aku menanyakan kepada salah seorang yang menjemputku, sambil tertawa ia menjawab: ” Kalau musim panas memang penduduk

negara ini membawa ranjang untuk tidur diluar rumah”, aku sempat berpikir: ”asik juga tidur beratapkan langit dan bisa memandangi bintang-bintang” kemudian kembali menikmati perjalanan walaupun sebenarnya badan ini butuh istirahat.

Namun karena rasa penasaran membuatku tidak melewati setiap moment yang ada, perjalanan dari bandara menuju KMA hanya sekitar 20 menit.

Tak lama kemudian aku dan teman-teman lainnya sampai di KMA dan mendapat sambutan yang hangat, mereka sangat ramah dan bersahaja serta menjamu kami dengan masakan Aceh kari kambing. Hari pertama di sudan masih terasa seperti di Aceh, semua mahasiswa asal aceh juga berkumpul menyambut kedatanganku dan teman-teman.

Informasi sebelumnya bahwa tidak ada mahasiwi asal aceh yang sedang kuliah di sudan pada saat itu, jadilah kami bertiga (aku, Fuji dan Kak Safa) mahasiswi asal Aceh yang pertama kuliah di negara ini, dari jumlah 25 orang mahasiswa Aceh yang sedang menuntut ilmu, semuanya laki-laki.

Sesudah beristirahat sejenak tak lama kemudian beberapa akhwat dari PPMI-P (persatuan pelajar mahasiswa indonesia putri) datang, mereka juga begitu ramah, welcome dan bersahabat layaknya kami sudah lama mengenal, di sinilah aku baru merasakan begitu hebatnya ukhuwah di negara orang, walaupun tak pernah saling mengenal sebelumnya, lalu kami pun ditempatkan di salah satu rumah akhwat yang sudah berkeluarga.

Jadwal tes masuk tanggal 26 juli, ternyata menurut info diundurkan sampai tanggal 3 agustus, masih ada waktu untukku dan teman-teman untuk beristirahat dan mengulang materi-materi yang akan keluar dalam tes.

Selanjutnya hari-hari berlalu begitu saja, namun hawa panas semakin terasa, tapi tidak mengurungkan niatku untuk berkeliling seputar markaz atau sekedar belanja ke suuq (pasar), awalnya sempat terbesit orang sudan hitam-hitam, kemana pun mata memandang semuanya serba hitam, bahkan mereka memakai abaya hitam juga, hitam ketemu hitam apa jadinya yah, (hitam pekat donk, selidik punya selidik ada juga orang sudan yang putih,kali blasteran dengan bangsa lain jadinya putih.

Negara ini dihuni oleh orang-orang dari berbagai negara, sepanjang pengamatanku di pasar, dipusat perbelanjaan bahkan yang berjualan kebanyakan orang cina, memang cina raja dagang dibelahan dunia mana pun mereka ada, kemudian orang-orang India, srilanka, Thailand, dan banyak juga pekerja orang-orang philipina, Somalia dll.

Pengalaman pertama belanja di suuq (pasar) yang menjual sayur sayuran, ikan dan buah , banyak tercium bau yang aneh, semua jenis bau-bauan itu sangat asing bagi hidungku ( belum pernah dapat bau kayak gini di Indonesia) baunya khas tapi membuat perutku ngak bisa di ajak kompromi dan akhirnya mual-mual pingin muntah, dan rasanya pingin cepat-cepat kabur dari pasar ini ( hehhee lebay dikit, padahal iya.

Akhirnya selesai juga belanjanya walaupun masih memakai guide karena belum mengenal medan, belum tau harga-harga barang dan jalan menuju ke pasar, biasanya kalau wajah kita orang asing mereka suka ngasih harga tinggi (mereka kira kita banyak dolarnya, padahal fulus harus hemat-hemat).

Akhirnya tiba juga tanggal 3, aku dan teman-teman pun ikut tes dengan rasa deg-degan, maklum ini kan tes masuk kalau ngak lulus bakal bikin pusing, masak harus pulang kampung lagi, tapi bismillah karena hari-hari sebelumnya udah pemantapan dengan senior (belajar di taman sambil bentang tikar beratapkan langit dan makan fuul sudan alias kacang).

Alhamdulillah tesnya lancar dan tinggal menunggu pengumuman, tak lama berselang sekitar 1 minggu hasil pun keluar dan alhamdulillah kami lulus semua, maka sah lah kami menjadi mahasiswa MA”HAD KHARTOUM ADDAULY.

Hari pertama kuliah memang agak membingungkan bagiku, apalagi ketika dosen menjelaskan materi, memadukan antara bahasa arab fushah dan ammiyah sudan, namun kebanyakan dosen menggunakan bahasa ammiyah (bahasa sehari-hari alias gaul), walhasil jadilah aku pendengar yang setia tapi tidak bisa memahami dengan baik apa yang dijelaskan dosen.

Dan yang lebih menyenangkan teman-teman sekelasku berasal dari berbagai berbagai negara, ada yang dari Somalia, Nigeria, Thailand, Cina, Amerika, Srilanka, kongo, Kenya, Filipina, Korea, Malaysia dll, ternyata Cuma kampus ini saja yang antara mahasiwi dan mahasiwa disatukan dalam satu ruangan, jumlah kami sekitar 70 orang.

Hari-hari selanjutnya menikmati hidup di asrama yang kebanyakannya dihuni oleh orang-orang sudan tulen, yang rumah mereka jauh diluar Khartoum sehingga mereka harus tinggal di asrama, bermualamalah di asrama dengan mereka awalnya memang susah apalagi dari segi bahasa mereka sering memakai Arab ammiyah, tapi ammiyah sudan itu dekat dengan bahasa arab fushah, lama-lama akhirnya aku juga bisa berbahasa ammiyah walaupun ngak 100% ( tapi arab fushahku hancur dah ).

Tinggal di asrama mengenal budaya sudan dan juga makanannya, budaya setiap kali ketemu mengucapkan salam dan bertanya kabar, example: assalamualaikum, keif hal yaum? (apa kabarnya hari ini), terus saja menanyakan kabar setiap kali bertemu walaupun tadi baru ketemu, begitu ketemu eh nanyak lagi, budaya ini berbeda jauh dengan budaya kita, paling kita nanyaknya Cuma sekali aja, tapi lama-lama aku terbiasa juga dengan budaya ini.

Nah kalau soal makanan mereka makan isy (roti dari gandum), dan lauknya sama juga ada ikan, daging dan sayur sayuran tapi sesekali ada juga yang makan nasi, kalau aku doyannya seperti tha’miyah, fathirah, syawirma/syawarma, kawareh, mulah.

Kalau masalah muamalah (pergaulan) orang sudan ramah-ramah dan baik, apalagi kalau lagi belanja ammu-ammu yang jualan kadang mereka kagum, kenapa kita mau belajar ke negara ini atau kenapa kita bisa berbahasa arab, kalau udah gitu jurus jitu untuk dapat harga miring aku sering nawar kayak gini ” yaammu nihna thullab maafi gurusy katsir” ( paman, Kami mahasiswa ngak punya uang banyak, diskon donk akhirnya dikasih dengan harga murah deh 🙂

Yang terkesan lagi kalau naik bis terus kita yang cewek ngak dapat tempat duduk pasti para lelaki rela bangun dari tempat duduknya, dan mempersilahkan kita kaum hawa untuk duduk( jarang-jarang ada yang mau gitu ), terus bisnya ngak desak-desakan lagi.

Jadi ngak ada tuh kaum hawa yang pada berdiri ngak dapat tempat duduk di dalam bis. Dan nih Kalau kita berkunjung

kerumah mereka, subhanallah mereka begitu memuliakan tamu-tamunya, pasti potong kambing terus menunya pasti enak-enak.

Setelah hampir 2 tahun di negara Dua Nil ini banyak pelajaran yang aku dapatkan, belajar berukhuwah, bersabar dari panas yang mencapai mencapai 50 derajat lebih( bisa dibayangkan panasnya) harus basah-basah kasur tiap hari, 5 menit kemudian udah kering, makanya di sudan Cuma ada dua musim aja : panas dan sangat panas , tapi sebenarnya ada musim dinginnya juga walaupun tak sedingin kairo atau Tunisia.

Sudan at forst sight 2

Semua dijalani saja dan dinikmati biar semua menjadi mudah dilalui ( namanya juga menuntut ilmu ya harus bersusah susah dulu, biar terasa perjuangannya), ya walaupun banyak hal-hal yang baik yang aku temukan di negara ini tapi tetap saja ada kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering aku liat, ya seperti buang air kecil ditembok (makanya kalau dekat-dekat tembok hati-hati aja, takut ngak steril).

A’la kulli hal semakin hari sudan menjadi indah dimataku, walaupun warna kulit penduduknya mayoritas hitam ternyata karena setiap hari di pandang akhirnya menjadi hitam manis juga (hehehhe, pengakuan tulus dari hati), ini pengalaman pertamaku ketika menginjakkan kaki di negara ini, biar lebih jelas ubek-ubek aja di label Khartoum, semuanya lengkap ceritanya.

Tapi satu catatan penting setiap yang sudah kembali ke Indonesia akan merindukan Sudan, merindukan hawa panasnya, merindukan Ghubar (hujan debu), dan tentu merindukan suara ammu-ammu di pasar yang berteriak “Ya, Andunisiah dair syunu”.

Sudan Hilwah, Wahesyteni Awi-awi